MALANG, RADAR MALANG - Selama ini, narasi maupun berita tentang pelecehan seksual hanya terfokus pada perempuan sebagai korban. Namun, mereka melupakan bahwa laki-laki juga bisa menjadi korban. Tindakan nyata ini sering kali dilupakan karena stigma sosial, namun memiliki dampak serius.
Laki-laki dapat menjadi korban pelecehan seksual, baik fisik maupun nonfisik, oleh pelaku pria maupun perempuan. Sama halnya yang sering terjadi terhadap perempuan, bentuk pelecehan sering dianggap atau dibungkus dengan narasi “bercanda.” Baik dari melontarkan lelucon seksual, tindakan memegang bagian tubuh tanpa izin, hingga objektivitas di media sosial. Seperti komentar seksual yang secara terang-terangan pada foto laki-laki yang dibaluti “pujian” padahal merujuk pada seksualisasi.
Baca Juga: Update Kasus Teror Bondet di Bantur Diduga karena Masalah Keluarga, Polisi Dalami Motif
Tembok stigma dan faktor toxic masculinity menjadi hambatan terbesar bagi korban laki-laki yang membuat mereka enggan untuk melapor. Sejak kecil, masyarakat menuntut laki-laki untuk harus selalu dominan, kuat, tahan banting, dan memiliki kendali penuh yang membuat mereka susah untuk menangis maupun mengekspresikan diri.
Selama ini, toxic masculinity membuat kita meyakini bahwa kasus laki-laki yang menjadi korban pemerkosaan adalah hal yang tabu, tidak lazim, karena laki-laki selalu dianggap sebagai dominan dalam hubungan seksual. Sehingga mereka tidak bisa diperkosa, pun ketika korban laki-laki mencoba melapor, masyarakat akan menganggap mereka sebagai pelaku dan bukan korban. Karena stigma yang di cap kan oleh masyarakat bahwa “Laki-laki adalah pelaku, bukan korban.”
Baca Juga: Musancab, PDIP Kabupaten Malang Target 60 Persen Gen Z Masuk PAC
Akibatnya, saat pelecehan terjadi korban sering merasa identitas maskulinitasnya rusak. Mereka menganggap diri mereka lemah, kehilangan “kejantanan.” Belum lagi ada asumsi bahwa perempuan adalah makhluk submisif, sehingga masyarakat sulit membayangkan ada wanita memaksa pria untuk berhubungan seksual. Belum lagi, adanya asumsi dimana masyarakat menganggap perkosaan sesama jenis sebagai bentuk penyimpangan seksual yang dianggap tabu.
Dampak Kekerasan Seksual yang Dialami Laki-Laki
Di masyarakat, ketika laki-laki mengalami kekerasan seksual hal tersebut bukanlah topik yang mudah diterima dan didiskusikan. Ketika menjadi korban, laki-laki juga mengalami banyak reaksi seperti yang dialami oleh perempuan, yaitu depresi, kemarahan, menyalahkan diri sendiri, disfungsi seksual, trauma, hingga keinginan untuk bunuh diri.
Tidak jarang pula laki-laki koran pemerkosaan menyalahkan diri sendiri atas peristiwa yang dialami, menyesali bahwa dirinya tidak melawan selayaknya lelaki dan memberikan kesempatan kepada pelaku.
Baca Juga: Pelatih Arema FC Marcos Santos Prediksi Persaingan Juara BRI Super League Musim Ini Semakin Ketat
Namun karena adanya tekanan sosial dan toxic masculinity, banyak korban laki-laki yang akhirnya memendam luka tersebut sendirian tanpa mendapatkan dan mencari pertolongan yang semestinya.
Berhenti Melakukan Standar Ganda
Hal yang perlu kita lakukan kedepan adalah berhenti melakukan standar ganda terhadap korban pelecehan. Berhenti menormalisasi atau tertawa ketika ada laki-laki bercerita. Pelecehan tetaplah pelecehan, tidak peduli gender. Menertawakan korban hanya akan memperpanjang dan memperburuk siklus dan membuat pelaku merasa bahwa tindakan mereka tidak salah.
Baca Juga: Warga Malang Dilarang Mengalihkan Fungsi Lahan Pertanian, Ini Alasannya
Setiap manusia berhak merasa nyaman dan aman, tanpa memandang gender, umur dan ras. Mari berhenti menormalisasikan bentuk pelecehan dalam bentuk apapun dan beri ruang pada korban untuk bercerita dan melapor.
Editor : Aditya Novrian