RADAR MALANG- Hati-hati dengan sifat takabur. Sebab, sifat ini bisa menyeret kita pada sifat-sifat buruk lainnya. Demikian yang dijelaskan oleh Imam Al Ghazali dalam karya masterpiece-nya, Ihya’ ‘Ulumuddin.
Menurut Al Ghazali, takabur adalah sifat sombong, congkak, atau merasa diri lebih tinggi dibanding orang lain dalam semua hal. Baik dalam hal kedudukan, keturunan, keindahan fisik tubuh, harta, pendidikan, atau yang lain.
Al Ghazali membagi sifat takabur menjadi dua. Yaitu, takabur batin dan takabur lahir. Takabur batin adalah sifat takabur yang berada dalam hati dan pikiran. Sedangkan takabur lahir adalah sifat takabur yang terekspresikan dalam ucapan maupun tindakan.
Bagaimana takabur bisa menyeret kita pada sifat-sifat buruk lainnya? Kata Al Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, orang yang takabur selalu ingin terlihat lebih tinggi dibanding yang lain.
Karena itu, ia akan terdorong untuk selalu menutup-nutupi segala hal yang ia khawatirkan bisa membuatnya dipandang sama atau bahkan lebih rendah dengan yang lain. Makanya, sifat buruk pertama yang bisa mengikuti takabur adalah tidak jujur. Suka berbohong untuk menutupi kelemahan.
Baca Juga: Ngaji Jumat: Ngaku Bestie tapi Tak Bisa Dimintai Tolong, Sama Saja Sudah Tiada
Orang yang takabur, kata Al Ghazali, juga cenderung tidak suka menerima masukan orang lain, apalagi jika dikritik. Sebab, itu akan menjatuhkan harga dirinya. Membuat dia terlihat sama atau lebih rendah dibanding yang lain.
Makanya, sifat buruk kedua yang mengikuti sifat takabur adalah suka marah. Secara psikologi, ini sebagai mekanisme pertahanan diri agar tidak dianggap sama atau lebih rendah dibanding yang lain.
Seiring dengan itu, sifat buruk ketiga sebagai ikutan sifat takabur adalah suka mencela atau merendahkan orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, “Al kibru batharul haqqi wa ghamsul khalqi (Takabur ialah menolak kebenaran dan menghinakan makhluk).” (HR Muslim, Baihaqi, Ahmad, dan Tirmidzi)
Secara spiritual, Al Ghazali mengatakan bahwa sifat takabur berarti menantang Allah. Sebab, yang paling tinggi, paling mulia, paling berhak dijunjung dan disembah hanya Allah. Ini karena Allah maha segalanya. Sehingga, Dia pula yang paling berhak untuk sombong.
Baca Juga: Ngaji Jumat: Ini Tiga Tingkatan Bestie menurut Imam Ghazali, Yang Ke-2 dan 3 Siapa Sanggup?
Al Ghazali mengibaratkan orang takabur sebagai budak yang mencoba mengambil mahkota rajanya untuk dipakaikan di kepalanya. Betapa durhakanya!
Dalam Al Qur’an surat An Nahl ayat 23, Allah berfirman, “Innahu laa yuhibbul mustakbiriin (Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong/takabur).”
Karena itu, sifat takabur sangat berbahaya. Rasulullah bersabda, “Laa yadkhulul jannata man fil qalbihi mitsqaala dzarratin min kibrin (Tidak dapat masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sifat takabur seberat debu pun).” (HR Muslim)
Semua saja bisa terhinggapi sifat takabur. Karena itu, mari kita telisik lebih dalam, adakah sifat itu pada diri kita? Hendaknya kita senantiasa berlindung darinya. Na’udzubillah min dzalik.
*) disarikan dari kitab Mau’idhatul Mu’minin min Ihya ‘Ulumuddin karya Syaih Muhammad Jamaluddin Al Qasimi Addimasyqi, ringkasan atas karya Imam Al Ghazali, terjemah Moh. Abdai Rathomy
Editor : Tauhid Wijaya