RADAR MALANG- Kebalikan sifat takabur adalah tawadlu’. Ini dua sifat yang berlawanan pada diri manusia. Jika takabur adalah sombong dan selalu merasa lebih tinggi dibanding yang lain, tawadlu’ adalah kebalikannya. Yaitu, rendah hati dan selalu ingin memuliakan orang lain sekalipun orang umum melihat orang tersebut lebih rendah darinya.
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali alias Imam Al Ghazali dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulumuddin, mengatakan bahwa tawadlu’ adalah sumber dari akhlak yang luhur dan budi pekerti yang mulia.
Baca Juga: Ngaji Jumat: Ini Tiga Tingkatan Bestie menurut Imam Ghazali, Yang Ke-2 dan 3 Siapa Sanggup?
Menurut Al Ghazali, orang disebut tawadlu’ jika dia sudah tahan menderita dan lebih suka melakukan introspeksi serta koreksi diri ketika dimaki-maki, disakiti, atau diambil haknya oleh orang lain.
Itu tercermin dari akhlak Rasulullah SAW. Misalnya, ketika beliau dicaci dan dilempari batu oleh penduduk Tha’if hingga kakinya berdarah-darah. Atau, ketika punggungnya ditimpa kotoran unta saat bersujud di dekat Kakbah.
Akan tetapi, Rasulullah sama sekali tidak marah. Bahkan, beliau menolak ketika Malaikat Jibril menawarkan bantuan untuk menimpakan bukit ke penduduk Tha’if. Dan, sebaliknya justru mendoakan agar mereka diberi petunjuk oleh Allah SWT.
Al Ghazali menuturkan, kerendah-hatian sebagai bagian dari sikap tawadlu’ juga dicontohkan dari akhlak Nabi Muhammad sebagai berikut:
1. Memerah susu dengan tangannya sendiri.
2. Menambal pakaian atau memperbaiki sandal/terompah dengan tangannya sendiri.
3. Belanja ke pasar dan membawa belanjaannya sendiri. Pernah, Abu Hurairah menawarkan diri untuk membawakan belanjaannya, namun Nabi menolaknya.
4. Menjabat tangan orang kaya dan miskin dengan sama hangatnya, tanpa membedakan.
5. Suka makan bersama-sama dengan para pembantunya.
6. Lebih dulu memberi salam kepada siapa saja yang ditemuinya, tanpa membeda-bedakan latar belakangnya.
7. Memenuhi undangan dari siapa saja yang mengundangnya dan menyantap apa pun makanan yang dihidangkan tanpa ada yang dibedakan.
Baca Juga: Ngaji Jumat Asbabun Nuzul: Surat An Nas dan Al Falaq Turun karena Ini
Dalam hal berpakaian, kepantasan adalah ukuran bagi orang yang tawadlu’. Bukan kemewahan. Bukan untuk pamer dan bukan pula untuk membuat orang lain merasa tidak dihormati.
Dikisahkan Al Ghazali, ada jawaban menarik dari Abu Sa’id Al Khudri ketika ditanya Abi Salmah tentang orang yang sering berlebih-lebihan bahkan mengada-adakan dalam segala hal, baik berupa pakaian, makanan dan minuman, maupun kendaraan.
Abu Sa’id mengatakan, “Makanlah dan minumlah karena Allah, berpakaianlah karena Allah, dan segala sesuatu yang Anda kerjakan hendaklah ditujukan untuk mendapat ridha Allah. Sebab, segala sesuatu yang di dalamnya telah dimasuki perasaan bangga, sombong, riya’, ingin pujian dan sanjungan, semua itu merupakan kemaksiatan, berlebih-lebihan yang tidak dapat dibenarkan oleh agama dan dibenci Allah.”
Bagi orang awam seperti kita, tawadlu’ bukan hal yang ringan untuk diwujudkan. Akan tetapi, meneladani akhlak Nabi tersebut perlu kita upayakan dan latih secara terus menerus. Semoga kita dimampukan oleh Allah untuk itu. Wallahu A’lam. (hid)
*) disarikan dari kitab Mau’idhatul Mu’minin min Ihya ‘Ulumuddin karya Syaih Muhammad Jamaluddin Al Qasimi Addimasyqi, ringkasan atas karya Imam Al Ghazali, terjemah Moh. Abdai Rathomy
Editor : Tauhid Wijaya