MALANG, RADAR MALANG – Media sosial saat ini tidak hanya digunakan sebagai tempat mencari hiburan, tetapi juga menjadi ruang utama yang digunakan untuk berinteraksi dan memperoleh segala informasi. Intensitas penggunaan internet yang tinggi menyebabkan sebagian orang ingin menghabiskan banyak waktu untuk melihat unggahan dan tren yang ada di berbagai platform.
Kebiasaan berlebihan tersebut dikenal dengan istilah chronically online, sebuah istilah yang populer di kalangan Gen Z untuk menggambarkan keterikatan yang kuat terhadap dunia digital. Istilah chronically online sering digunakan dalam percakapan di media sosial. Sebutan ini merujuk pada seseorang yang terlalu sering menghabikan waktu di internet hingga aktivitas dan cara berpikirnya banyak dipengaruhi oleh dunia digital. Fenomena seperti ini tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan menggunakan media sosial secara berlebihan, tetapi juga dapat berdampak pada kondisi emosional dan kesehatan mental apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Baca Juga: Bukan Sekadar Nongkrong: 3 Kafe Unik di Malang dengan Konsep Tak Biasa
Apa Itu Chronically Online? Istilah Viral tentang Kehidupan Digital
Chronically online adalah istilah populer yang merujuk pada seseorang yang sangat bergantung pada internet dan menghabiskan sebagian besar waktunya di dunia digital. Awalnya, istilah ini menggambarkan individu yang terlalu fokus pada aktivitas online hingga sulit untuk melepaskan diri dari internet.
Istilah ini semakin sering digunakan di era saat ini untuk menyebut orang yang terlalu intens mengikuti tren, informasi, dan interaksi di media sosial. Fenoma ini tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan bermain atau berinteraksi di internet, tetapi juga menunjukkan dampak dari internet terhadap pola pikir, perilaku, serta hubungan seseorang dengan lingkungan sekitar.
Kebiasaan chronically online dapat memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan
Fenomena Chronically online menunjukkan bahwa penggunaan dari internet yang berlebihan dapat berdampak pada kesehatan mental. Paparan media sosial tanpa adanya batas sering dikaitkan dengan meningkatnya rasa cemas, depresi, serta kesepian dalam kehidupan sehari-hari.
Kebiasaan chronically online tidak hanya mengganggu kesehatan mental, tetapi juga mengganggu kesehatan seperti tidak teraturnya pola tidur, dan kerusakan mata akibat paparan sinar layar. Terlaluu lama menatap layar gadget akibat penggunaan internet yang berlebihan berisiko membuat mata terasa lelah, kering, penglihatan menurun, hingga memicu sakit kepala.
Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Masih Suka Dilayani Bawahan? Itu Jauh dari Akhlak Ini
Kebiasaan mengonsumsi konten instan dapat membuat otak terbiasa dengan stimulasi cepat, sehingga aktivitas di dunia kerja terasa lebih membosankan dan kurang memberikan efek puas.
Ada beberapa langkah yang bisa diterapkan untuk mengurangi kebiasaan chronically online
Fenomena chronically online memang sering melekat pada Gen Z karena generasi ini sangat akrab dengan teknologi dan internet. Namun, kondisi tersebut tidak terbatas pada Gen Z saja, sebab siapa pun dapat mengalaminnya jika terlalu tenggelan dalam aktivitas media sosial sehari-hari.
Mengurangi kebiasaan chronically online dapat dimulai dengan membuat aturan yang sederhana dalam penggunaan internet. Misalnya, dengan cara membuat batasan penggunaan gadget pada malam hari dan menggunakan fitur timer sebagai pengingat agar waktu penggunaan gadget tetap terkontrol.
Fenomena chronically online menunjukkan pentingnya membatasi penggunaan internet agar tidak berdampak negatif pada kesehatan mental dan kehidupan sehari-hari.
Editor : Aditya Novrian