Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sosok Prakasa Kitabuming, Pria Solo yang Berbahaya di Film Ghost in the Cell

Marsha Nathaniela • Senin, 11 Mei 2026 | 10:39 WIB
Potret Arswendy Bening Swara, berperan sebagai tokoh Prakasa Kitabuming dalam Film Ghost in the Cell. (Instagram/jokoanwar).
Potret Arswendy Bening Swara, berperan sebagai tokoh Prakasa Kitabuming dalam Film Ghost in the Cell. (Instagram/jokoanwar).

RADAR MALANG – Prakasa Kitabuming merupakan salah satu karakter di film Ghost in the Cell, karya Joko Anwar. Tokoh ini dibangun dengan penuh misteri dan menjadi puncak konflik dalam film bergenre horror tersebut.

Film Ghost in the Cell yang kini telah mencapai 3 juta penonton, mengangkat realitas kelam dari sistem hukum di suatu negara. Di satu sisi, lapas dalam cerita ini, merepresentasikan ketimpangan dalam penegakan keadilan, sedangkan teror supranatural yang muncul, menggambarkan ganjaran moral bagi mereka yang dikuasi oleh keserakahan dan kejahatan.

Baca Juga: Bersahabat Bukan Berarti Bisa Seenaknya: Pentingnya Batas dalam Pertemanan

Arswendy Bening Swara yang memerankan tokoh Prakasa Kitabuming, berasal dari Sumatra. Lantaran tokoh yang ia lakoni berasal dari Solo, maka Arswendy berusaha untuk menjiwai perilaku orang Solo, yakni lemah lembut hingga dari cara tertawanya yang khas.

“Mencoba menjiwai karena saya orang Sumatra, jadi orang Solo harus begini, lemah lembut segala macam. Maka, itu yang saya pegang, ya lemah lembut, tapi berbahaya,” ungkapnya dalam acara Tribute to Audience Ghost in the Cell.

Dalam character sheet yang diunggah oleh Joko Anwar di Instagramnya, Prakasa Kitabuming diceritakan pernah menempuh pendidikan di Universitas Indonesia Utama, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Ia digambarkan sebagai seorang aktivis kampus yang penuh gairah, bahkan dengan satu kalimat yang keluar dari mulutnya dapat menyalakan semangat ribuan mahasiswa. Perjuangannya itu demi menegakkan keadilan sosial, hak rakyat kecil, dan menentang keras kekuasaan rezim Orde Baru.

Baca Juga: Private Life: Kenapa Menjaga Kehidupan Pribadi Kini Semakin Penting?

Di usianya yang ke-27 tahun, ia bergabung dalam partai politik dan perlahan kehilangan prinsipnya. Kursi kekuasaan yang nyaman, membuatnya terhipnotis hingga ia mengabaikan mataknya korupsi di lingkungan sekitarnya.

Selang beberapa tahun kemudian, Prakasa Kitabuming mulai berbisnis tambang batubara dengan mengandalkan koneksi yang ia miliki, mulai dari partai hingga pejabat daerah. Tak hanya itu, Prakasa juga menjalin kolusi dengan oknum DPR, aparat, bahkan perwira militer. Semua itu demi mengantongi izin usaha, merebut lahan rakyat adat, dan memperlancar ekspor batubara.

Kekayaannya terus bertambah, mobil mewah, jam tangan, hingga aset telah menjadi bagian dari hidupnya. Merasa tak puas, Prakasa Kitabuming kemudian menjadi anggota DPR untuk memperkuat alur bisnisnya.

Baca Juga: Legally Blonde Kembali Lewat Serial Prekuel "Elle"

Dalam film Ghost in the Cell, Prakasa Kitabuming dijebloskan ke penjara karena kasus korupsi fantastis yang bernilai Rp20 triliun, hasil dari rekayasa proyek dan mark-up tambang di Kalimantan.

Alih-alih ditempatkan di sel umum yang sempit dan kumuh, para koruptor, seperti Prakasa Kitabuming ditempatkan di blok K, sel khusus yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah, layaknya hotel bintang lima. Petinggi lapas pun tunduk dan hormat kepadanya dengan melontarkan kata-kata manis demi menjaga suasana hati tahanan korup tersebut.

Namun, di balik ketamakannya itu, terdapat satu kelemahan yang tidak pernah mampu ia lawan. Prakasa Kitabuming tidak memiliki keberanian untuk memandang foto ibundanya. Hal ini menjadikannya sebagai sosok yang bengis, tetapi masih menyimpan sisi kerapuhan dalam dirinya.

Baca Juga: Antara Passion dan Tekanan Karier: Makna Kuliah di Mata Generasi Sekarang

Editor : Aditya Novrian
#Ghost in the cell #prakasa kitabuming #pria solo #joko anwar