RADAR MALANG - Hati-hati. Meskipun gemar beribadah, bukan tidak mungkin kita tergolong sebagai ahli ibadah yang tertipu. Baik mereka yang gemar salat, puasa, sedekah, haji, atau yang lain.
Imam Al Ghazali dalam karyanya, Ihya’ ‘Ulumuddin, membagi mereka menjadi beberapa golongan. Ini tiga di antaranya:
Golongan Pertama
Yaitu, mereka yang dalam beribadah suka mempersulit dirinya sendiri sehingga berlebih-lebihan dan melampaui batas. Contohnya adalah orang yang terkena waswas saat berwudu. Sehingga, dalam berkumur berlebih-lebihan hingga berulang kali.
Begitu pula saat membasuh muka, tangan, atau kaki. Mereka menggosoknya berulang kali, bahkan sampai kulit berdarah. Semua itu dilakukan karena selalu merasa waswas, bahwa wudunya kurang bersih dan suci.
Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Awas! Takabur Bisa Seret Tiga Sifat Buruk Berikut Ini
Padahal, syariat tidak menghendaki demikian. Bahkan, sahabat Umar bin Khattab saja pernah berwudu dengan menggunakan air dari cerek seorang Nasrani. Sudah airnya minim, berasal dari non-muslim pula.
Wudu ala Umar ini pun cukup menurut syariat. Akan tetapi, banyak yang menghindarinya dan lebih memilih yang sulit-sulit.
Golongan Kedua
Mirip dengan golongan pertama, yaitu mereka yang dihinggapi penyakit waswas. Khususnya saat berniat untuk salat. Ia selalu khawatir bahwa niatnya tidak sah. Menurut Al Ghazali, ini juga karena pengaruh setan.
Mereka mengulang-ulang niat sampai merasa niatnya benar-benar shahih dan diterima Allah. Padahal, sebenarnya, yang terjadi hanyalah mengubah-ubah bunyi takbir sampai pada bunyi yang menurut perasaannya paling shahih.
Konyolnya, seusai takbir hatinya tidak pernah lagi hadir dalam setiap bacaan dan gerakan salatnya hingga selesai. Hati dan pikirannya ke mana-mana. Mereka inilah yang tertipu oleh ibadahnya sendiri.
Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Masih Suka Dilayani Bawahan? Itu Jauh dari Akhlak Ini
Golongan Ketiga
Masih terkait dengan penyakit waswas. Kali ini ketika mengeluarkan huruf-huruf dalam bacaan Al Fatihah. Atau, saat berdzikir dengan makhraj alias artikulasi huruf yang dilebih-lebihkan.
Mereka lebih berkonsentrasi membedakan bunyi huruf “Dlad ض” dan “dha’ ظ”. Lalu, “shad ص” dan “sin س”. Atau, menyangatkan bunyi tasydid-tasydidnya.
Sementara, arti dan makna setiap ayat yang dibacanya sama sekali terlewat. Menurut Al Ghazali, ini contoh tertipu alias ghurur yang buruk sekali.
Al Ghazali mengingatkan, apakah Allah memaksa makhluk-Nya supaya betul-betul tahqiq alias valid sesuai makhraj-nya saat membaca Al Qur’an? Atau, Allah menghendaki supaya Al Qur’an itu dibaca saja menurut kebiasaan orang membaca yang sewajarnya seperti orang yang bercakap-cakap?
Tentu, kata Al Ghazali, akal yang jernih akan mengatakan “sebagaimana biasanya saja”. Itu mirip dengan ketika kita berbicara dalam bahasa Jawa, Indonesia, atau apa pun dalam perbincangan sehari-hari. Tidak ada tuntutan agar setiap pengucapan kata benar-benar fasih sesuai artikulasi hurufnya.
Al Ghazali mencontohkan seorang delegasi yang diutus raja untuk menyampaikan surat kepada penguasa kerajaan sebelah. Saat membacakan surat itu, sang delegasi tentu tak perlu mengulang-ulang bacaannya hanya demi menuruti kefasihan artikulasi hurufnya. Jika ia melakukan itu, sama saja dengan menunjukkan ketololannya.
Nah, ahli ibadah yang demikian, hanya berkonsentrasi pada artikulasi huruf pada bacaan sementara maknanya terabaikan, merupakan ahli ibadah yang tertipu. Wallahu A’lam.
*) Disarikan dari Mau’idhatul Muslimin min Ihya’ ‘Ulumuddin karya Syaikh Muhammad Jamaluddin Al Qasimi Ad Dimasyqi yang merupakan ringkasan dari Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali, terjemahan Moh. Abdai Rathomy.
Editor : Tauhid Wijaya