RADAR MALANG- Bukan hanya ada tiga golongan orang yang gemar beribadah tapi sebenarnya tertipu. Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin membaginya hingga menjadi sembilan golongan.
Tiga yang pertama terkait dengan ibadah shalat, yaitu waswas dalam berwudu, waswas dalam takbiratul ihram, dan waswas dalam makhraj alias artikulasi setiap bacaan dalam shalat.
Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Masih Suka Dilayani Bawahan? Itu Jauh dari Akhlak Ini
Adapun tiga yang kedua alias nomor 4-6 dari golongan ahli ibadah yang tertipu alias kecele, menurut Al Ghazali, adalah sebagai berikut:
Keempat
Adalah ahli ibadah yang tertipu dengan bacaan Al Qur’an. Yaitu, mempercepat bacaannya sampai batas tidak tertib lagi. Al Ghazali mengibaratkannya seperti orang yang mengomel. Lisannya meluncur begitu cepat, tapi hati dan pikirannya ke mana-mana.
Orang seperti itu hanya fokus untuk menghafal bacaan Al Qur’an agar bisa membacanya dengan lancar, bahkan cepat. Tapi, lupa terhadap makna yang terkandung dalam setiap ayat yang dibaca.
Serupa dengan itu, ahli membaca Al Qur’an yang hanya fokus pada kemerduan bacaannya juga rawan tertipu. Ini bisa terjadi jika ia mengesampingkan makna dari wahyu yang diturunkan oleh Allah itu.
Al Ghazali memberi perumpamaan dengan resep yang ditulis dokter untuk kita. Resep itu bukan hanya untuk dihafal, dibaca, atau bahkan dilagukan. Melainkan, untuk dipahami apa isinya dan kemudian dipraktikkan dalam kehidupan.
Baca Juga: Ngaji Jumat: Ini Tiga Tingkatan Bestie menurut Imam Ghazali, Yang Ke-2 dan 3 Siapa Sanggup?
Kelima
Adalah orang yang tertipu dalam berpuasa. Fisiknya tidak makan dan minum, tetapi lisannya tetap berghibah, mata dan telinganya tetap digunakan untuk bermaksiat, serta hati dan pikirannya tetap diliputi dendam, riya’, dengki, dan berbagai penyakit batin lainnya.
Bahkan, saat berbuka pun tidak peduli akan kehalalan makanan yang hendak disantapnya. Ahli ibadah puasa seperti ini jelas-jelas tertipu. Mengira sudah berpuasa karena telah menjalankan syariatnya, tapi pada hakikatnya sama sekali jauh dari tujuan berpuasa itu sendiri.
Baca Juga: Ngaji Ramadan Kitab Ushfuriyah, Hadis 33 tentang Amalan Hari Jumat yang Bisa Menembus Langit
Keenam
Adalah orang yang tertipu dalam beribadah haji. Menurut Al Ghazali, itu bisa terjadi ketika mereka berhaji tanpa lebih dulu membersihkan hartanya dari hal-hal yang diharamkan. Mereka berhaji dengan harta yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak halal: korupsi, menipu, mencuri, riba, dan sejenisnya.
Atau, mereka berhaji tapi utang-utangnya belum dilunasi. Atau, tidak meminta izin atau ridha dari orang tuanya terlebih dulu sebelum berangkat. Atau, bertengkar atau menyakiti teman sesama jamaah haji.
Atau, tidak mengerjakan amalan-amalan wajib dalam rangkaian ibadah haji, tapi justru hanya amalan sunatnya karena sudah merupakan haji yang kesekian kalinya. Bagi orang yang demikian, bahkan, jika ada kesempatan, maksiat pun dikerjakan karena merasa sudah beberapa kali berangkat haji.
Konyolnya, ketika melakukan itu semua, orang tersebut tetap merasa bahwa ibadah hajinya diterima oleh Allah SWT. Orang seperti ini jelas-jelas tertipu alias kecele dalam ibadah hajinya. Na’udzubillah min dzalik.
*) Disarikan dari Mau’idhatul Muslimin min Ihya’ ‘Ulumuddin karya Syaikh Muhammad Jamaluddin Al Qasimi Ad Dimasyqi yang merupakan ringkasan dari Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali, terjemahan Moh. Abdai Rathomy.
Editor : Tauhid Wijaya