MALANG RAYA, RADAR MALANG – Di tengah tren Pokémon card yang identik dengan investasi dan perburuan kartu bernilai jutaan rupiah, sebagian kolektor justru memiliki alasan yang lebih personal. Salah satunya Salman Ahmad Torik, yang mengoleksi kartu Pokémon untuk menjaga kenangan masa kecil tetap hidup.
Bagi mahasiswa semester enam Jurusan Biologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta asal Malang itu, setiap kartu yang tersimpan di dalam binder memiliki cerita tersendiri. Nilainya tidak hanya diukur dari harga pasar, tetapi juga dari nostalgia yang melekat sejak kecil.
“Kayaknya dari TK sudah suka Pokémon,” ujarnya.
Berawal dari Anime dan Kartu Tidak Resmi
Kecintaan Salman terhadap Pokémon tumbuh jauh sebelum Pokémon card resmi masuk ke Indonesia pada 2019.
Baca Juga: Mudah! Simak Cara Mengurus BPJS Kesehatan Terbaru Hanya Menggunakan Ponsel
Saat masih kecil, ia hanya bisa menikmati serial animasi Pokémon di televisi atau menyaksikan video pembukaan paket kartu melalui YouTube. Keinginan untuk memiliki kartu asli belum bisa terwujud karena akses yang terbatas.
Sebagai gantinya, Salman membeli kartu versi tidak resmi yang banyak dijual di sekitar lingkungan sekolah.
Meski sederhana, pengalaman itu menjadi awal dari ketertarikannya terhadap dunia Pokémon yang terus bertahan hingga sekarang.
Kembali Mengoleksi setelah Vakum
Hobi mengoleksi Pokémon card mulai kembali digeluti Salman secara serius pada 2025 setelah sempat vakum cukup lama.
Baca Juga: Pencinta Japanesse Food Wajib Coba 5 Rekomendasi Menu Sushi Tei Paling Favorit!
Pada masa awal mengoleksi, ia mengaku tidak terlalu memikirkan nilai ekonomi maupun kartu langka. Baginya, kesenangan utama justru berasal dari pengalaman membuka paket kartu dan melihat isi yang didapatkan.
“Awal-awal main kartunya cuma senang apa yang didapat aja,” tuturnya.
Namun seiring waktu, muncul keinginan untuk berburu kartu tertentu yang memang menjadi incaran.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika berhasil mendapatkan kartu Zamazenta AR dari sebuah booster pack yang dibelinya di Indomaret.
“Kayaknya itu baru deh dapat kartu yang lumayan aku incar,” katanya.
Lebih Suka Berburu Single Card daripada Booster Pack
Saat ini Salman lebih sering membeli single card atau melakukan pertukaran kartu dengan sesama kolektor dibanding membuka booster pack secara acak.
Baca Juga: Angka Harapan Hidup Lansia Sentuh 75,36 Persen, Naik Satu Persen dibandingkan 2025
Cara tersebut dinilai lebih efektif untuk mendapatkan kartu yang memang diinginkan tanpa harus bergantung pada faktor keberuntungan.
Ia juga aktif mengikuti forum, komunitas, dan grup kolektor untuk memantau perkembangan pasar, lelang, hingga aktivitas jual beli kartu Pokémon.
Keberadaan komunitas membuatnya bisa berinteraksi dengan sesama penggemar yang memiliki minat serupa.
Nilai Pokémon Card Tidak Selalu soal Harga
Meski pasar Pokémon card terus berkembang dan nilainya semakin tinggi, Salman mengaku kurang nyaman dengan praktik scalping maupun permainan harga yang marak terjadi belakangan ini.
Baca Juga: Murid MA Muhammadiyah 1 Raih Prestasi Nasional di Ajang FLSP
Menurut dia, tidak semua kartu harus dilihat sebagai instrumen investasi semata.
“Ada kartu yang memang mahal karena langka, itu masih bisa aku terima,” ujarnya.
Bagi Salman, daya tarik utama Pokémon card tetap terletak pada cerita yang menyertainya. Setiap kartu menyimpan memori, pengalaman berburu, hingga perjalanan panjang sebagai penggemar Pokémon sejak kecil.
Karena itu, di tengah tren koleksi yang semakin bernilai fantastis, ia memilih menikmati Pokémon card sebagai cara sederhana untuk merawat nostalgia yang tidak bisa digantikan oleh uang. (ksh/adn)
Editor : Aditya Novrian