MALANG, RADAR MALANG - Belakangan ini, banyak warga Malang Raya mengeluhkan suhu udara yang terasa lebih dingin dari biasanya. Saat malam hingga pagi hari, udara terasa menusuk kulit, membuat banyak orang enggan keluar dari balik selimut. Namun uniknya, ketika siang tiba, cuaca justru berubah menjadi terik dan cukup menyengat.
Kalau kalian merasakan hal yang sama, kemungkinan besar Malang Raya sedang mengalami fenomena yang dikenal dengan istilah mbediding.
Baca Juga: Jangan Asal Lanjut Pakai, Ini Cara Mengatasi Skincare yang Tidak Cocok di Kulit
Apa Itu Mbediding?
Mbediding merupakan fenomena alam berupa perubahan suhu udara yang sangat mencolok. Udara terasa sangat dingin menyengat pada malam hingga pagi hari, tetapi berubah menjadi panas dan terik saat siang hari.
Istilah ini berasal dari bahasa Jawa dan umumnya terjadi pada awal hingga puncak musim kemarau, sekitar bulan Juli hingga September. Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Hampir setiap tahun, masyarakat di berbagai daerah Indonesia mengalami kondisi serupa ketika musim kemarau tiba.
Kenapa Mbediding Bisa Terjadi?
Menurut penjelasan klimatologi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat beberapa faktor atmosfer yang menyebabkan fenomena ini terjadi.
1. Langit Cerah Tanpa Awan
Saat musim kemarau, langit pada malam hari cenderung cerah dan minim awan. Kondisi ini membuat panas yang diserap permukaan bumi sepanjang siang hari mudah terlepas kembali ke luar angkasa. Karena tidak ada lapisan awan yang menahan panas tersebut, suhu udara pun turun dengan cepat sehingga malam terasa jauh lebih dingin.
2. Angin Monsun Australia
Pada periode ini, Indonesia dipengaruhi oleh angin yang bertiup dari arah Australia. Angin tersebut membawa massa udara yang bersifat dingin dan kering. Akibatnya, suhu udara di sejumlah wilayah, termasuk Malang Raya, menjadi lebih rendah dibandingkan biasanya.
Baca Juga: Dari Energi Sampai Otot, Ini Alasan Daging Merah Penting untuk Tubuh
3. Kelembapan Udara yang Rendah
Udara yang mengandung sedikit uap air cenderung lebih cepat kehilangan panas ketika malam hari. Karena kelembapan udara sedang rendah, suhu pun dapat turun secara drastis setelah matahari terbenam. Inilah yang membuat udara terasa semakin dingin menjelang dini hari.
Fenomena ini paling umum dirasakan di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator, terutama Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Daerah dataran tinggi atau pegunungan biasanya merasakan dampak yang lebih kuat. Tidak heran jika wilayah seperti Malang dan daerah pegunungan lainnya sering mencatat suhu yang terasa jauh lebih dingin dibandingkan daerah pesisir.
Apa Dampaknya bagi Kesehatan?
Selain membuat tubuh menggigil saat pagi hari, udara yang dingin dan kering juga bisa mempengaruhi kondisi kesehatan.
Beberapa dampak yang sering dirasakan antara lain seperti kulit menjadi lebih kering, bibir mudah pecah-pecah, gejala alergi dapat lebih mudah muncul, dan gangguan pernapasan bisa terasa lebih berat bagi sebagian orang.
Baca Juga: Kolesterol di Daging Kambing, Benarkah Selalu Berbahaya? Ini Faktanya!
Karena itu, penting untuk menjaga kondisi tubuh tetap hangat, memperbanyak minum air putih, dan menggunakan pelembab apabila diperlukan.
Mbediding merupakan fenomena alamiah yang normal terjadi sebagai bagian dari siklus pergantian musim setiap tahunnya. Jadi, kalau akhir-akhir ini kalian merasa pagi di Malang Raya terasa seperti berada di dalam kulkas, tidak perlu panik. Fenomena ini merupakan proses alam yang biasa terjadi ketika musim kemarau mencapai puncaknya.
Meski begitu, tetap jaga kesehatan dan persiapkan jaket favorit kalian sebelum beraktivitas di pagi hari. Sebab, saat mbediding datang, udara dingin di Malang memang bisa terasa lebih menusuk daripada biasanya.
Editor : Aditya Novrian