MALANG, RADAR MALANG - Di tengah maraknya aktivitas digital dan media sosial, muncul tren hobi kreatif yang semakin diminati oleh kalangan muda, yaitu junk journal. Aktivitas ini mengajak seseorang untuk menyusun berbagai benda sederhana seperti potongan kertas, tiket, foto, stiker, hingga kemasan makanan ke dalam sebuah buku jurnal yang dihias secara personal.
Sekilas, benda-benda yang digunakan dalam junk journal mungkin terlihat seperti barang yang tidak lagi memiliki nilai guna. Namun, bagi para penggemarnya, setiap benda tersebut menyimpan cerita dan kenangan yang ingin diabadikan. Inilah salah satu alasan mengapa junk journal mulai menarik perhatian banyak orang.
Baca Juga: Top Pick K-Drama Juni 2026, Deretan Serial Korea yang Siap Menemani Waktu Luang
Salah satu penggemar junk journal, sebut saja Kare, mengatakan bahwa nilai dari benda yang disimpan bukan terletak pada bentuk fisiknya, melainkan pada cerita yang melekat di baliknya. Menurutnya, benda sederhana seperti bungkus permen sekalipun dapat menjadi pengingat momen tertentu yang berkesan.
"Kelihatannya seperti sampah, tetapi kalau kita punya, kita bisa mengerti cerita di dalamnya. Walaupun cuma bungkus permen, kita bisa ingat siapa yang memberi dan alasan pemberiannya, sehingga terasa berharga," ujarnya.
Selain menjadi tempat menyimpan kenangan, junk journal juga dimanfaatkan sebagai aktivitas pengisi waktu luang. Di tengah kebiasaan menggunakan ponsel dalam waktu yang cukup lama, kegiatan ini menjadi alternatif yang menawarkan pengalaman berbeda.
Baca Juga: 5 Hobi Baru yang Bikin Lebih Produktif, Tanpa Keluar Banyak Biaya!
Shy (nama samaran), yang juga menekuni hobi tersebut, menilai proses menyusun jurnal dapat menjadi cara untuk beristirahat sejenak dari rutinitas dan berbagai aktivitas yang terasa monoton. Saat menyusun halaman demi halaman, seseorang secara tidak langsung diajak untuk mengingat kembali berbagai pengalaman yang pernah dilalui.
"Daripada terus bermain ponsel, waktunya bisa digunakan untuk merekap memori yang sudah terjadi. Sekaligus menjadi distraksi sejenak dari hal-hal yang menjenuhkan," katanya.
Tak hanya itu, junk journal juga dianggap mampu melatih kreativitas. Pengguna perlu memikirkan cara menata berbagai elemen agar terlihat menarik, mulai dari pemilihan warna, susunan gambar, hingga kombinasi dekorasi yang digunakan. Proses tersebut membuat setiap halaman memiliki karakter yang berbeda sesuai dengan kreativitas pembuatnya.
Baca Juga: Bagi Anak Muda Malang, Crafting Bukan Sekadar Hobi tapi Ruang Melepas Penat
Popularitas junk journal menunjukkan bahwa di tengah era serba digital, masih banyak orang yang menikmati cara-cara sederhana untuk menyimpan kenangan. Melalui potongan-potongan kecil yang dikumpulkan dari kehidupan sehari-hari, sebuah cerita dapat terdokumentasi dalam bentuk yang lebih personal dan bermakna.
Editor : Aditya Novrian