RADAR MALANG- Surat Al ‘Alaq merupakan surat ke-96 dalam Al Qur’an. Yang populer dan biasa dihafal serta dijadikan bacaan dalam shalat adalah ayat pertama hingga kelima. Itu adalah perintah pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW yang sekaligus menandai kerasulannya.
Iqra’ bismi rabbikalladzii khalaq (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan). Khalaqal insaana min ‘alaq (Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah). Iqra’ warabbukal akram (Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah). Alladzii ‘allama bil qalam (Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam/pena). ‘Allamal insaana maa lam ya’lam (Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya).
Baca Juga: Ngaji Jumat Asbabun Nuzul: Surat Al Qadr Turun untuk Hibur Kaum Muslimin yang Iri Lihat Bani Israil
Para ulama memang membagi surat ini ke dalam dua bagian. Bagian pertama adalah ayat 1-5 yang berisi perintah kepada Nabi untuk membaca seperti di atas. Adapun bagian kedua merupakan ayat 6-19 yang berisi peringatan kepada orang-orang yang sombong dan melampaui batas.
Menurut Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam kitabnya, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, sebagaimana diterjemahkan Zenal Mutaqin dkk menjadi Asbabun Nuzul, Latar Belakang Turunnya Ayat-Ayat Al Qur’an, ayat 6-19 itu terkait dengan perilaku paman Nabi, Abu Jahal, yang melarangnya shalat di depan Kakbah.
Itu didapat dari hadis riwayat Ibnu Al Mundzir yang mengutip riwayat dari Abu Hurairah yang mengungkapkan bahwa Abu Jahal pernah berkata demikian, “Apakah Muhammad pernah meletakkan mukanya ke tanah (sujud) di hadapan kalian?” Maka dijawab oleh penduduk Makkah, “Ya.”
Lalu, Abu Jahal berkata, “Demi Latta dan Uzza, sekiranya aku melihatnya demikian, akan kuinjak batang lehernya dan kubenamkan mukanya ke dalam tanah.”
Riwayat lain dari Ibnu Abbas menyebutkan, bahwa pada saat Rasulullah SAW melaksanakan shalat, Abu Jahal datang melarangnya. Lalu Allah menurunkan ayat 9-16 surat Al ‘Alaq. (HR Ibnu Jarir).
aBaca Juga: Ngaji Jumat Asbabun Nuzul: Surat Al ‘Adiyat Turun saat Nabi Mengkhawatirkan Nasib Pasukan Berkudanya
Ibnu Abbas mengatakan, pada saat Rasulullah SAW shalat, Abu Jahal datang dan berkata, “Bukankah aku telah melarang engkau untuk berbuat ini (shalat)?” Nabi pun membentaknya.
Abu Jahal lalu berkata lagi, “Apakah engkau tidak tahu bahwa di sini tidak ada yang mempunyai pengikut yang lebih banyak selain aku?” Maka Allah menurunkan ayat 17-19 surat Al ‘Alaq. (HR Tirmidzi). Menurut Tirmidzi, hadis ini hasan shahih.
Secara lengkap, ayat 6-19 surat Al ‘Alaq adalah sebagai berikut:
6. Kallaa innal insaana layathghaa
Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas
7. An ra’aahus taghnaa
apabila melihat dirinya serbacukup
8. Inna ilaa rabbika al ruj’aa
Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali
9. Ara aytalladzii yanhaa
Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang?
10. ‘Abdan idzaa shallaa
seorang hamba ketika dia melaksanakan shalat
11. Ara ayta in kaana ‘alal hudaa
bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang shalat itu) berada di atas kebenaran (petunjuk)
12. Aw amara bittaqwaa
Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
13. Ara ayta in kadzdzaba watawallaa
Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) itu mendustakan dan berpaling?
14. Alam ya’lam bi annallaaha yaraa
Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?
15. Kallaa lainlam yantahi lanasfa’an binnaashiyah
Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka)
16. Naashiyatin kaadzibatin khaati`ah
(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan durhaka
17. Falyad’u naadiyah
Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya)
18. Sanad’uz zabaaniyah
Kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah (penyiksa orang-orang yang berdosa)
19. Kallaa laa tuthi’hu wasjud waqtarib
Sekali-kali tidak! Janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah serta dekatkanlah (dirimu kepada Allah)
Editor : Tauhid Wijaya