Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kaliko, Komunitas Crafting Gratis di Malang yang Bikin Anak Muda Betah Lepas dari Gawai

Indah Mei Yunita • Rabu, 24 Juni 2026 | 17:21 WIB
Anggota komunitas Kaliko melakukan crafting di di Kafe Ville, Dinoyo, beberapa waktu lalu. (Dokumen Komunitas Kaliko)
Anggota komunitas Kaliko melakukan crafting di di Kafe Ville, Dinoyo, beberapa waktu lalu. (Dokumen Komunitas Kaliko)

RADAR MALANG - Di tengah meja, sebuah kotak berisi manik-manik warna-warni berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Di sudut lain, gulungan benang rajut terus memanjang, sementara halaman jurnal perlahan dipenuhi potongan kertas, stiker, dan foto-foto kecil. Tak ada yang terburu-buru menyelesaikan karya. Sesekali tawa pecah saat lem menempel di jari atau benang kusut tak kunjung terurai. Sore itu, waktu seolah berjalan lebih lambat.

Suasana di Kafe Ville pun berubah total. Meja-meja yang biasanya dipenuhi laptop dan secangkir kopi kini dipenuhi gunting, pita, kain perca, benang, hingga kotak-kotak kecil berisi aneka bahan kerajinan. Di antara aroma brioche yang baru matang dan denting gelas, para peserta saling meminjam alat, bertukar bahan, atau sekadar mengobrol. Tak ada instruktur, target, ataupun kompetisi. Mereka hanya menikmati proses mencipta bersama.

Kaliko, Ruang Berkumpul Pecinta Crafting di Malang

Mereka adalah anggota Komunitas Kaliko, crafting club yang menjadi rumah bagi para pencinta seni kerajinan tangan di Kota Malang. Komunitas ini lahir dari keresahan Diva Leviana Georgina, 31, yang sejak kecil telah akrab dengan berbagai jenis kerajinan tangan, mulai knitting, crochet, menjahit, hingga beragam craft lainnya.

Namun, selama bertahun-tahun ia kesulitan menemukan komunitas yang bisa mewadahi seluruh hobi tersebut.

Baca Juga: Sleep Culture Jadi Gaya Hidup Baru, Tidur Berkualitas Jadi Prioritas Generasi Modern

"Yang ada biasanya komunitas yang fokus pada satu kegiatan saja, misalnya journaling atau melukis. Sementara komunitas yang mengumpulkan berbagai jenis craft masih jarang. Saya belum menemukannya waktu itu," tuturnya.

Inspirasi justru datang dari media sosial. Georgina melihat tren crafting club di Eropa dan Amerika yang mempertemukan para pencinta kerajinan tangan di sebuah kafe. Masing-masing datang membawa proyeknya sendiri, lalu berkarya bersama tanpa kelas maupun instruktur.

Konsep sederhana itu kemudian ingin ia hadirkan di Malang.

Keinginannya bertemu jalan ketika Afifa Azahra atau Ara, 25, menghubunginya melalui media sosial. Ara yang menggemari journaling ternyata memiliki keresahan serupa. Dari percakapan itu, keduanya sepakat mendirikan Komunitas Kaliko. Pertemuan perdana digelar pada September 2025.

Bermain, Bukan Workshop

Pada pertemuan pertama, peserta yang hadir masih bisa dihitung dengan jari. Namun, dari bulan ke bulan jumlahnya terus bertambah. Kini, setiap gathering diikuti sekitar 18 hingga 20 peserta, dengan 18 orang di antaranya menjadi anggota tetap.

Kaliko sengaja dibangun sebagai komunitas yang terbuka bagi siapa saja. Tidak ada batasan usia maupun gender.

"Kami tidak membatasi siapa yang mau ikut. Pernah juga ada ibu-ibu yang membawa anak-anaknya, jadi mereka membuat karya bersama," kata Georgina.

Mayoritas peserta memang berasal dari kalangan remaja hingga dewasa muda. Namun, semua orang dipersilakan bergabung selama memiliki ketertarikan pada dunia crafting.

Menariknya, Kaliko tidak pernah menyebut kegiatannya sebagai kelas ataupun workshop. Istilah yang lebih sering digunakan adalah "bermain". Sebab, setiap peserta bebas membawa proyek masing-masing.

Ada yang merangkai gelang dari manik-manik, membuat scrapbook, merajut, menghias telepon seluler, menyusun buket bunga, hingga membentuk bunga dari kawat. Belakangan, journaling menjadi aktivitas yang paling banyak diminati.

Baca Juga: Setlog Viral di Kalangan Gen Z dan Idol K-Pop, Vlog Otentik Berbasis Waktu Jadi Sorotan

Konsep itu pula yang membedakan Kaliko dengan workshop kerajinan tangan pada umumnya. Tidak ada biaya pendaftaran, materi wajib, ataupun target menghasilkan karya tertentu. Peserta hanya diminta membawa perlengkapan crafting masing-masing.

Jadi Cara Mengurangi Screen Time

Pertemuan Kaliko rutin digelar sebulan sekali dengan lokasi yang berpindah-pindah di berbagai kafe di Kota Malang. Sebagai bentuk apresiasi kepada pemilik tempat, setiap peserta diwajibkan membeli makanan atau minuman.

"Biasanya berlangsung sekitar tiga jam, pukul 13.00 sampai 16.00. Tapi karena terlalu asyik, sering ada yang bertahan sampai pukul 19.00. Fleksibel saja sesuai kesibukan masing-masing," ujar Ara.

Bagi Ara, journaling bukan sekadar hobi. Aktivitas itu awalnya berangkat dari tren membuat kolase album K-Pop. Namun, lama-kelamaan menjadi cara sederhana untuk mengurangi screen time sekaligus beristirahat sejenak dari media sosial.

"Waktu itu di Malang lebih banyak workshop seni kerajinan tangan yang berbayar sekitar Rp70 ribu sampai Rp100 ribu. Kalau ikut terus, lama-lama juga menguras kantong," ujarnya.

Karena itulah, ia bersama Georgina memilih menghadirkan ruang berkarya yang gratis, santai, sekaligus inklusif. Meski tidak memungut biaya, mereka tetap menyiapkan freebies sederhana, seperti stiker, sesuai kemampuan komunitas.

"Kami memang terinspirasi dari komunitas di luar negeri. Di sana anggotanya juga membawa perlengkapan sendiri, hanya saja biasanya ada biaya untuk sewa tempat dan freebies," imbuh Ara.

Di tengah kehidupan yang semakin lekat dengan layar gawai, Kaliko menawarkan sesuatu yang sederhana: ruang untuk duduk bersama, mengobrol, dan menikmati proses mencipta tanpa tekanan. Sebab, bagi mereka, hasil bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah menemukan teman, berbagi cerita, dan kembali menikmati waktu secara perlahan.

Editor : Aditya Novrian
#Komunitas Kaliko #crafting Malang #komunitas journaling Malang #komunitas hobi Malang #crafting club