Geliat thrifting di Malang banyak ditemukan di kawasan yang dekat dengan lingkungan kampus, seperti Dinoyo, Lowokwaru, dan Klojen. Toko-toko thrift menawarkan berbagai jenis pakaian, mulai dari jaket vintage, kaos lama, hingga pakaian bermerek dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan produk baru.
Perkembangan budaya thrift juga terlihat melalui berbagai kegiatan yang mempertemukan pelaku usaha dan penggemarnya. Salah satunya melalui Dalbofest, acara yang menggabungkan bazar pakaian bekas dengan berbagai tenant usaha kreatif lokal.Salah satu pemilik toko thrift di Kota Malang, Rizky Adam, mengatakan perkembangan thrift tidak selalu menjadi ancaman bagi produk lokal. Menurutnya, pakaian bekas dan produk lokal dapat berjalan berdampingan dalam industri kreatif.
Baca Juga: Tren Thrifting Makin Diminati, Lakukan Hal Ini Sebelum Memakai Baju Hasil Thrift
“Tidak ada bukti bahwa barang bekas mematikan produk lokal,” ujarnya.
Ia menilai kegiatan seperti Dalbofest menjadi salah satu contoh bahwa pelaku thrift dan usaha lokal dapat berada dalam ruang yang sama.
Fenomena thrifting juga berkaitan dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap dampak industri fesyen. Produksi pakaian secara cepat atau fast fashion dinilai memiliki dampak terhadap lingkungan karena menghasilkan limbah tekstil dan mendorong pola konsumsi yang terus berubah.
Penggunaan kembali pakaian yang masih layak pakai menjadi salah satu alasan sebagian masyarakat memilih thrift. Selain mendapatkan barang dengan harga lebih terjangkau, pembeli juga dapat menemukan pakaian dengan model yang berbeda dari produk fesyen massal.
Survei Goodstats pada 2024 mencatat sebanyak 49,4 persen anak muda Indonesia pernah membeli pakaian bekas atau melakukan thrifting. Beberapa penelitian mengenai perilaku konsumen juga menunjukkan bahwa harga dan keunikan model menjadi alasan utama seseorang memilih pakaian bekas, sementara faktor lingkungan menjadi pertimbangan tambahan.
Selain menjadi pilihan dalam berpakaian, thrifting juga berkembang menjadi peluang usaha. Banyak penjual memanfaatkan media sosial untuk menjual pakaian bekas secara daring. Beberapa toko juga menyediakan paket usaha berupa bal pakaian bekas bagi masyarakat yang ingin mencoba bisnis dengan modal terbatas.
Pada akhirnya, perkembangan thrifting menunjukkan perubahan cara masyarakat melihat pakaian bekas. Barang yang sebelumnya dianggap sebagai pilihan alternatif kini mulai dipandang sebagai bagian dari gaya berpakaian, kreativitas, dan cara seseorang menampilkan karakter dirinya.
Editor : Aditya Novrian