MALANG, RADAR MALANG – Setelah lama ditunggu, film Obsession akhirnya tayang di Indonesia pada 26 Juni. Film garapan Curry Barker itu tak hanya menarik perhatian para sineas lewat pencapaian box office-nya, tetapi juga lewat pandangan berani Barker soal distribusi film independen.
Obsession tercatat sebagai film terlaris Focus Features dengan pendapatan USD 224,7 juta secara global. Di balik pencapaian itu, Barker justru menyoroti pentingnya keberanian sineas untuk merilis karya mereka secara mandiri, termasuk lewat YouTube.
Ia mengatakan, saat masih sekolah film, festival selalu diposisikan sebagai jalur utama distribusi. Sementara YouTube kerap dianggap pilihan terakhir setelah film selesai berkeliling festival. Barker tidak sepenuhnya sepakat dengan pandangan tersebut.
Baca Juga: Familiar tapi Belum Pernah ke Sana? Ini Konsep Liminal Space dalam Film Backrooms
Menurutnya, banyak film pendek bagus justru berakhir tanpa penonton karena ketatnya persaingan festival. Karena itu, ia menilai YouTube bisa menjadi ruang alternatif agar karya yang sudah selesai tetap bisa benar-benar menemukan audiens.
“We're finally getting to the point where people are like fine I'll put my film on YouTube. Versus when I was like in film school, that was kind of like a last resort. I was like screw it, you know, just throw it on YouTube and see what happens. When we made Obsession, we had no idea what was going to happen,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Bagi Barker, mengunggah film ke YouTube bukan berarti menurunkan nilai karya. Sebaliknya, platform itu bisa membuka akses penonton yang lebih luas, terutama bagi sineas independen yang tidak selalu punya jalur ke festival besar.
Editor : Aditya Novrian