MALANG, RADAR MALANG – Dahulu kesuksesan film biasanya identik dengan modal besar atau nama franchise yang sudah mendunia. Namun, bagi sineas muda zaman sekarang, modal terbesarnya justru datang dari sosial media seperti YouTube dan pemahaman yang kuat terhadap kultur internet.
Hal ini dibuktikan oleh dua sutradara Gen Z, Curry Barker dan Kane Parsons. Di usia 26 tahun, Barker berhasil mengubah film horor berbiaya sekitar USD750 ribu menjadi salah satu film dengan keuntungan terbesar tahun ini lewat Obsession. Film tersebut meraup sekitar USD371 juta di box office dunia dan resmi menjadi film live-action orisinal terlaris pada dekade 2020-an, melampaui rekor Sinners.
Sementara itu, Parsons yang baru berusia 20 tahun mencatat sejarah melalui Backrooms. Film produksi A24 tersebut dibuat dengan anggaran USD10 juta dan berhasil mengumpulkan sekitar USD330 juta secara global, sekaligus menjadikannya sutradara termuda dalam sejarah A24.
Meski menggarap film yang berbeda, keduanya memiliki kesamaan. Barker dan Parsons sama-sama memahami cara generasi internet menikmati cerita. Pengalaman sebagai kreator YouTube memberi mereka bekal yang berbeda dibanding jalur perfilman konvensional. Sejak awal, mereka terbiasa memproduksi karya dengan anggaran terbatas sehingga dituntut lebih kreatif dalam memanfaatkan sumber daya yang ada.
Baca Juga: Obsession Tayang di Indonesia, Simak Dorongan Curry Barker untuk Sineas Berani Rilis Film di YouTube
Mereka juga belajar berbagai aspek produksi secara mandiri, mulai dari penulisan cerita, penyuntingan gambar, penataan suara, hingga membangun ritme penceritaan yang mampu mempertahankan perhatian penonton.
Berbeda dengan pembuat film yang baru bertemu audiens saat film dirilis, kreator internet bisa memperoleh respons secara langsung melalui kolom komentar dan terus menyempurnakan karyanya.
Pengalaman tersebut kemudian mereka terapkan dalam film dengan menerjemahkan kultur digital menjadi pengalaman sinematik. Selain itu, basis penggemar yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun membuat studio melihat adanya potensi pasar bahkan sebelum mereka merilis film layar lebar.
Baca Juga: Familiar tapi Belum Pernah ke Sana? Ini Konsep Liminal Space dalam Film Backrooms
Fenomena ini menunjukkan bahwa Generasi Z tidak hanya ingin menjadi sasaran promosi. Mereka ingin melihat cerita yang dekat dengan pengalaman, humor, keresahan, hingga budaya internet yang mereka kenal sehari-hari.
Barker dan Parsons berhasil membaca kebutuhan tersebut lebih dulu dan membuktikan bahwa YouTube dapat menjadi pintu masuk menuju industri film.
Editor : Aditya Novrian