Film ini mengikuti kisah Bear, seorang pegawai toko musik yang pemalu dan menyimpan perasaan terhadap rekan kerjanya, Nikki. Setelah gagal mengungkapkan perasaannya, Bear menemukan sebuah artefak misterius bernama One Wish Willow. Ia kemudian menghancurkan benda tersebut sambil berharap agar Nikki mencintainya lebih dari siapa pun di dunia.
Keinginannya memang terkabul, tetapi dengan konsekuensi yang tidak pernah ia bayangkan. Rasa cinta Nikki berubah menjadi obsesi berlebihan yang membawa hubungan mereka menuju tindakan kekerasan dan kehancuran.
Baca Juga: Familiar tapi Belum Pernah ke Sana? Ini Konsep Liminal Space dalam Film Backrooms
Argumen Penonton yang Menganggap Bear Sebagai Korban
Salah satu alasan sebagian penonton membela Bear adalah karena ia dianggap tidak memahami dampak sebenarnya dari keinginannya. Dari sudut pandang ini, Bear bukanlah seseorang yang sengaja menciptakan penderitaan, melainkan korban dari kekuatan supernatural yang berada di luar kendalinya.
Bear juga tidak secara langsung berusaha menghapus permintaannya setelah menyadari perubahan Nikki. Ia justru mencoba mencari cara untuk mengubah efek kutukan tersebut. Hal ini terlihat ketika ia bertanya kepada layanan bantuan apakah permintaannya dapat dimodifikasi, bukan sekadar dibatalkan.
Sutradara Curry Barker juga pernah menjelaskan bahwa aturan One Wish Willow sangat bergantung pada cara seseorang menyusun permintaannya. Menurutnya, seseorang yang lebih berhati hati dalam merumuskan keinginan mungkin dapat menghindari konsekuensi buruk. Karena itu, sebagian penonton menilai kesalahan Bear lebih disebabkan oleh ketidaktahuannya terhadap aturan artefak tersebut, bukan karena niat jahat.
Argumen Penonton yang Menilai Bear Turut Bertanggung Jawab
Namun, tidak sedikit penonton yang menolak pandangan bahwa Bear sepenuhnya merupakan korban. Mereka berpendapat bahwa masalah utama bukan hanya berasal dari kutukan, tetapi juga dari bagaimana Bear menikmati situasi tersebut sebelum semuanya berubah menjadi bencana.
Dalam beberapa bagian film, Bear tetap menerima perhatian dan kasih sayang Nikki meskipun ia menyadari bahwa hubungan tersebut sudah tidak berjalan secara normal. Ia tidak benar benar berusaha mengembalikan keadaan seperti semula, melainkan hanya ingin mengendalikan situasi ketika dampaknya mulai merugikan dirinya.
Pandangan ini diperkuat oleh anggapan bahwa Bear bukan korban pasif, melainkan seseorang yang ikut terlibat dalam masalah tersebut. Ia menikmati perasaan dicintai oleh Nikki, tetapi mulai menolak ketika bentuk cinta tersebut berubah menjadi sesuatu yang tidak dapat ia kendalikan.
Baca Juga: Obsession Tayang di Indonesia, Simak Dorongan Curry Barker untuk Sineas Berani Rilis Film di YouTube
Bahkan pada bagian akhir film, tindakan Bear untuk menghentikan kutukan dianggap memperlihatkan sisi egoisnya. Ia tidak sepenuhnya bertindak demi menyelamatkan Nikki, melainkan karena sudah tidak mampu menghadapi konsekuensi dari keinginannya sendiri.
Curry Barker dan Kritik terhadap Sosok "Nice Guy"
Menariknya, karakter Bear tampaknya memang dirancang sebagai kritik terhadap stereotip "nice guy" dalam budaya populer. Sosok yang terlihat baik, pendiam, dan tidak berbahaya tersebut ternyata menyimpan keinginan tersembunyi untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang sesuai dengan harapannya.
Bear pada awalnya digambarkan sebagai pria biasa yang merasa tidak mendapatkan kesempatan dalam hubungan romantis. Namun, ketika keinginannya terpenuhi melalui cara yang tidak wajar, sisi lain dari karakternya mulai muncul.
Beberapa ulasan bahkan menyebut bahwa Bear sebenarnya tidak benar benar mencintai Nikki sebagai individu, melainkan mencintai gambaran ideal tentang Nikki yang ia ciptakan dalam pikirannya sendiri. Inilah yang menjadi alasan mengapa judul film tersebut menggunakan kata Obsession, bukan Love.
Editor : Aditya Novrian