Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Fenomena Girl Math: Saat Logika Belanja Menjadi Tren di Media Sosial

Ayshaputri Raihana Azzahra • Kamis, 2 Juli 2026 | 06:00 WIB
ILUSTRASI Fenomena Girl Math yang sedang tren. (Magnific)
ILUSTRASI Fenomena Girl Math yang sedang tren. (Magnific)

MALANG, RADAR MALANG - Istilah girl math semakin populer di media sosial, terutama di kalangan generasi muda. Frasa ini digunakan untuk menggambarkan cara berpikir yang unik, bahkan jenaka, dalam membenarkan keputusan berbelanja. Berawal dari konten-konten pendek di TikTok dan platform digital lainnya, girl math kini menjadi istilah yang akrab dalam perbincangan mengenai gaya hidup dan keuangan.

Baca Juga: Messi Jadi Bintang Promo Spider-Man, Momen Bareng Tom Holland Bikin Penggemar Heboh

Salah satu contoh yang sering muncul adalah anggapan bahwa membeli barang saat diskon berarti berhasil menghemat uang. Ada pula yang menganggap pembelian terasa "gratis" karena menggunakan cashback, atau merasa hasil penjualan barang lama dapat langsung dibelanjakan tanpa memengaruhi kondisi keuangan. Meski terdengar lucu, pola pikir tersebut sebenarnya menggambarkan bagaimana persepsi seseorang dapat memengaruhi keputusan finansial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perilaku konsumsi tidak selalu didasarkan pada perhitungan yang rasional. Emosi, kebiasaan, dan cara seseorang memandang nilai uang sering kali lebih dominan daripada logika ekonomi. Karena itu, keputusan membeli suatu barang tidak jarang dipengaruhi oleh rasa puas, takut ketinggalan tren, atau keinginan memanfaatkan promo yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Mengenal "Niche", Strategi Content Creator Menembus Persaingan di Media Sosial

Di sisi lain, girl math tidak selalu dipandang negatif. Banyak orang menganggap tren ini berhasil membuat pembahasan mengenai keuangan menjadi lebih ringan dan mudah dipahami. Istilah tersebut juga membuka ruang diskusi tentang pentingnya memahami perilaku konsumsi di era digital yang serba cepat.

Namun, para perencana keuangan mengingatkan bahwa diskon tetap merupakan pengeluaran apabila barang yang dibeli sebenarnya tidak dibutuhkan. Demikian pula cashback dan berbagai promo yang hanya memberikan keuntungan jika dimanfaatkan secara bijak. Jika tidak, promosi justru dapat mendorong seseorang berbelanja lebih sering daripada yang direncanakan.

Baca Juga: Talking Heads Rayakan 50 Tahun, "Stop Making Sense" Kembali Jadi Sorotan Lewat Tur Pemutaran Jerry Harrison

Fenomena girl math menjadi pengingat bahwa literasi finansial tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung pemasukan dan pengeluaran. Yang tidak kalah penting adalah memahami berbagai bias psikologis yang memengaruhi keputusan ekonomi. Di tengah kemudahan transaksi digital dan gencarnya promosi, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi keterampilan yang semakin penting agar kondisi keuangan tetap sehat dalam jangka panjang.

Editor : Aditya Novrian
#girl math #tren #Fenomena #media sosial