Neorealisme Italia (1943 hingga 1954)
Neorealisme Italia lahir dari kehancuran akibat Perang Dunia II. Saat itu, industri film Italia mengalami keterpurukan setelah studio Cinecittà di Roma rusak akibat perang. Kondisi tersebut membuat sejumlah sutradara harus meninggalkan kemewahan produksi studio dan mulai membuat film langsung di ruang ruang publik dengan fasilitas terbatas.
Keterbatasan justru melahirkan gaya baru. Para sineas menggunakan lokasi nyata sebagai latar cerita, merekrut aktor non profesional, serta mengangkat kehidupan masyarakat biasa sebagai pusat narasi.
Salah satu karya paling berpengaruh dari periode ini adalah Roma, Città Aperta (1945) garapan Roberto Rossellini. Film yang dibuat tidak lama setelah berakhirnya pendudukan Nazi di Roma tersebut berhasil meraih penghargaan utama di Festival Film Cannes 1946 dan memperkenalkan pendekatan sinema yang lebih dekat dengan realitas sosial.
Gaya tersebut kemudian diperkuat melalui karya Vittorio De Sica lewat Ladri di Biciclette atau Bicycle Thieves (1948) serta Luchino Visconti melalui La Terra Trema (1948). Film film tersebut banyak membahas kemiskinan, kehilangan, dan perjuangan masyarakat kelas bawah setelah perang.
Federico Fellini yang sebelumnya bekerja sebagai penulis skenario untuk Rossellini kemudian mengembangkan semangat neorealisme dengan pendekatan yang lebih personal dan simbolis dalam karya karyanya.
Baca Juga: Hollywood Mulai Berburu Cerita Horor dari Reddit, Kisah Warganet Diangkat Jadi Film Layar Lebar
Gelombang Baru Prancis atau French New Wave (1958 hingga 1964)
Sekitar satu dekade setelah munculnya Neorealisme Italia, dunia perfilman kembali mengalami perubahan besar melalui French New Wave. Gerakan ini bermula dari sekelompok kritikus muda majalah Cahiers du Cinéma di Paris yang kemudian beralih menjadi pembuat film.
Tokoh tokoh seperti François Truffaut, Jean Luc Godard, Claude Chabrol, Éric Rohmer, dan Jacques Rivette merasa sinema Prancis saat itu terlalu terpaku pada formula lama, terutama adaptasi karya sastra dengan struktur cerita yang dianggap kaku.
Mereka kemudian memperkenalkan gagasan auteur theory, yaitu pandangan bahwa sutradara merupakan sosok utama yang memberikan identitas artistik dalam sebuah film.
Dengan biaya produksi yang terbatas, para sineas French New Wave justru menciptakan bahasa visual baru. Mereka menggunakan kamera genggam, mengambil gambar di lokasi sehari hari, memakai dialog improvisasi, hingga bereksperimen dengan teknik penyuntingan.
Jean Luc Godard melalui À Bout de Souffle atau Breathless (1960), misalnya, menggunakan teknik jump cut yang saat itu dianggap melanggar aturan penyuntingan klasik. Namun, pendekatan tersebut kemudian menjadi salah satu gaya visual yang banyak ditiru.
Selain kelompok Cahiers du Cinéma, terdapat pula kelompok Left Bank yang berisi sineas seperti Agnès Varda, Alain Resnais, dan Chris Marker. Mereka lebih banyak menggabungkan unsur dokumenter, sastra, dan eksplorasi memori dalam karya mereka.
Pengaruh French New Wave masih terasa hingga kini. Banyak sutradara modern seperti Martin Scorsese dan Quentin Tarantino mengakui inspirasi dari gerakan tersebut, bahkan Tarantino memberi nama perusahaan produksinya, A Band Apart, yang terinspirasi dari film Godard Bande à Part.
Ekspresionisme Jerman dan Gerakan Sinema Lain
Sebelum Neorealisme Italia dan French New Wave muncul, sinema dunia telah lebih dulu mengalami perubahan melalui Ekspresionisme Jerman pada dekade 1920 an.
Gerakan ini dikenal melalui penggunaan pencahayaan kontras, bayangan dramatis, serta desain latar yang tidak realistis untuk menggambarkan kondisi psikologis manusia. Kegelisahan masyarakat Jerman setelah Perang Dunia I menjadi salah satu tema utama dalam karya karya periode ini.
Gaya visual tersebut kemudian memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan film noir di Amerika Serikat pada dekade 1940 an hingga 1950 an.
Baca Juga: Menggali Sejarah Perfilman Indonesia Melalui Indonesian Old Cinema Museum di Malang
New Hollywood (Akhir 1960 an hingga Awal 1980 an)
Perubahan besar berikutnya terjadi di Amerika Serikat melalui gerakan New Hollywood. Pada periode ini, studio film besar mulai kehilangan dominasi karena perubahan selera penonton, terutama generasi muda.
Kondisi tersebut membuka kesempatan bagi sutradara baru seperti Francis Ford Coppola, Martin Scorsese, dan Steven Spielberg untuk membuat film dengan pendekatan yang lebih berani.
Berbeda dari film Hollywood klasik yang banyak mengandalkan formula aman, sineas New Hollywood menghadirkan cerita yang lebih kompleks, karakter yang lebih manusiawi, serta tema yang lebih gelap dan realistis.
Dogme 95 dan Era Sinema Digital
Memasuki pertengahan 1990 an, muncul gerakan Dogme 95 yang dipelopori oleh sutradara Denmark Lars von Trier dan Thomas Vinterberg.
Melalui sebuah manifesto, mereka menolak penggunaan efek khusus berlebihan, pencahayaan buatan, hingga musik tambahan dalam film. Tujuannya adalah mengembalikan perhatian penonton pada cerita dan kemampuan akting.
Gerakan ini ikut membuka jalan bagi perkembangan film independen berbiaya rendah, terutama setelah teknologi kamera digital membuat produksi film menjadi lebih mudah diakses.
Pada akhirnya, sejarah sinema dunia menunjukkan pola yang sama: perubahan besar sering kali lahir bukan dari kondisi sempurna, melainkan dari keterbatasan yang memaksa para sineas mencari cara baru untuk bercerita. Dari Italia pascaperang hingga Indonesia era reformasi, keterbatasan justru menjadi titik awal lahirnya inovasi yang mengubah dunia perfilman.
Editor : Aditya Novrian