MALANG, RADAR MALANG – Tidak sedikit orang menganggap romance dan love story memiliki arti yang sama sehingga sering digunakan secara bergantian. Padahal, keduanya memiliki konsep yang berbeda dalam dunia sastra maupun perfilman.
Perbedaan tersebut kembali ramai diperbincangkan setelah film Obsession karya Curry Barker menjadi perbincangan hangat di kalangan penikmat film. Salah satu dialog tokohnya, Nikki, yang menjelaskan impiannya menjadi penulis, membuat banyak penonton menyadari bahwa romance sebenarnya tidak sama dengan love story.
Secara sederhana, love story merupakan kisah yang berpusat pada hubungan cinta antara dua tokoh. Pertemuan, konflik, hingga perjalanan hubungan mereka menjadi inti cerita. Namun, genre ini tidak mengharuskan akhir yang bahagia. Hubungan para tokohnya bisa berakhir tragis, kandas, atau dipisahkan oleh berbagai keadaan.
Baca Juga: Internet Jadi Modal Baru Sutradara Gen Z Menembus Hollywood
Sementara itu, romance merupakan genre yang menjadikan hubungan romantis sebagai fokus utama cerita sekaligus mengharuskan akhir yang memberi harapan bagi pasangan utama.
Romance harus diakhiri dengan Happily Ever After (HEA), yakni pasangan hidup bahagia bersama, atau Happy For Now (HFN), yaitu hubungan mereka masih berlanjut dengan masa depan yang menjanjikan meski belum mencapai akhir perjalanan.
Perbedaan inilah yang kini banyak dibahas warganet. Sebagian orang mencari romance dengan akhir yang memuaskan, sementara yang lain menikmati love story yang mengeksplorasi berbagai kemungkinan akhir hubungan.
Meski sering dianggap serupa, memahami perbedaan keduanya dapat membuat pembaca atau penonton lebih mudah memahami maksud genre yang ditawarkan serta ekspektasi terhadap alur dan penyelesaian cerita.
Baca Juga: Obsession Tayang di Indonesia, Simak Dorongan Curry Barker untuk Sineas Berani Rilis Film di YouTube
Editor : Aditya Novrian