MALANG, RADAR MALANG - Pembayaran tanpa uang tunai kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari membeli makanan, membayar transportasi, hingga berbelanja kebutuhan rumah tangga, hampir seluruh transaksi dapat dilakukan hanya dengan memindai kode QR atau menggunakan dompet digital. Kemudahan ini membuat aktivitas ekonomi menjadi lebih cepat dan efisien, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap perilaku konsumsi.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa masyarakat cenderung lebih mudah mengeluarkan uang ketika tidak melihat uang tunai berpindah tangan. Berbeda dengan pembayaran menggunakan uang fisik yang memberikan sensasi kehilangan secara langsung, transaksi digital sering kali terasa lebih ringan sehingga seseorang kurang menyadari besarnya pengeluaran yang telah dilakukan.
Di sisi lain, berbagai promo seperti cashback, poin loyalitas, hingga potongan harga juga mendorong masyarakat untuk bertransaksi lebih sering. Jika tidak disertai perencanaan keuangan yang baik, kemudahan tersebut berpotensi memicu pembelian impulsif yang sebenarnya tidak diperlukan.
Baca Juga: Pentingnya Eksistensi dan Literasi untuk LAZ
Meski demikian, pembayaran digital bukanlah penyebab utama seseorang menjadi boros. Faktor yang lebih menentukan adalah kebiasaan dalam mengelola keuangan. Mencatat pengeluaran, menetapkan anggaran bulanan, serta memanfaatkan fitur pemantauan transaksi pada aplikasi keuangan dapat membantu menjaga pengeluaran tetap terkendali.
Pada akhirnya, sistem pembayaran cashless merupakan alat yang menawarkan efisiensi dan kenyamanan. Namun, manfaat tersebut hanya dapat dirasakan secara optimal apabila diimbangi dengan kesadaran finansial. Sebab, kemudahan bertransaksi seharusnya menjadi sarana untuk mengelola uang dengan lebih baik, bukan alasan untuk membelanjakannya tanpa perhitungan.
Editor : Aditya Novrian