MALANG, RADAR MALANG – Istilah Lynchian semakin sering muncul dalam ulasan film. Istilah tersebut berasal dari gaya penyutradaraan khas David Lynch.
Sebutan ini digunakan untuk menggambarkan karya yang menghadirkan suasana ganjil, mimpi yang terasa nyata, misteri tanpa jawaban pasti, serta perpaduan antara kehidupan sehari-hari dengan hal-hal yang terasa mengganggu.
Atmosfer Aneh di Balik Hal yang Tampak Biasa
Salah satu ciri utama gaya Lynchian adalah menghadirkan suasana yang terasa janggal meski latarnya terlihat normal. Perasaan ini dikenal sebagai the uncanny, yaitu sensasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres tanpa alasan yang jelas. Kesan tersebut dibangun melalui akting, ritme dialog, pengambilan gambar, hingga tata suara.
Karena itu, ketegangan dalam karya bergaya Lynchian lebih banyak muncul dari atmosfer yang mengusik dibandingkan adegan horor yang eksplisit.
Baca Juga: Warner Bros Garap Film Siren Head, Monster Horor Viral Internet Segera Hadir di Bioskop
Kontras antara Dunia Ideal dan Kenyataan Kelam
Gaya Lynchian juga identik dengan pertentangan antara kehidupan yang tampak ideal dan kenyataan yang tersembunyi di baliknya. Hal-hal yang terlihat indah, damai, dan tertata sering kali hanya menjadi lapisan luar sebelum cerita mengungkap sisi yang lebih misterius dan mengganggu.
Kontras tersebut membuat penonton seolah melihat dua realitas sekaligus, yaitu dunia yang tampak di permukaan dan kenyataan yang perlahan terungkap.
Alur Layaknya Mimpi yang Sarat Simbol
Berbeda dengan film yang mengandalkan alur sebab-akibat, karya Lynchian cenderung mengikuti logika mimpi (dream logic). Perpindahan adegan lebih didasarkan pada asosiasi dan simbol daripada penjelasan yang gamblang.
Identitas tokoh dapat berubah, waktu bisa melompat atau berulang, sementara makna cerita sengaja dibiarkan ambigu agar penonton dapat menafsirkannya sendiri. Pendekatan ini menjadikan pengalaman menonton lebih berfokus pada emosi dan atmosfer daripada mencari jawaban yang pasti.
Meski tidak semua penonton menyukai gaya tersebut, Lynchian tetap dianggap sebagai salah satu pendekatan sinematik paling berpengaruh dalam sejarah film.
Baca Juga: Watchlist Pekan Ini: 5 Film Nyeleneh yang Wajib Ditonton
Editor : Aditya Novrian