RADAR MALANG- Menurut Imam Al Ghazali, pentingnya kedudukan bekerja dalam ajaran Islam tidak hanya bisa dilihat dari firman Allah dalam Al Qur’an maupun sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat. Melainkan juga bisa dilihat dari atsar atau keterangan dari para sahabat sendiri.
Di antaranya adalah pernyataan Umar bin Khattab sebagai berikut, “Jangan sekali-kali seorang di antara kamu semua itu hanya duduk-duduk dan tidak suka berusaha untuk mencari rezeki. Tidakkah kamu semua telah mengetahui bahwa langit itu tidak akan menurunkan hujan berupa emas atau perak?”
Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Awas! Ibadah Pun Bisa Tertipu, Ini 3 Golongannya Menurut Al Ghazali
Dari sini kita bisa melihat bahwa Umar yang dikenal sebagai khalifah yang tegas lagi adil sepeninggal Nabi Muhammad pun membenci orang yang bermalas-malasan. Sebaliknya, memberikan apresiasi kepada mereka yang mau bekerja untuk mencari rezeki dari Allah.
Sikap serupa ditunjukkan oleh Ibnu Mas’ud, sahabat yang tergolong paling awal masuk Islam. Ia pernah berkata demikian, “Saya ini benar-benar benci kalau melihat seseorang hanya menganggur, tidak berusaha untuk kepentingan dan urusan keduniaannya, dan tidak pula berusaha untuk keakhiratannya.”
Menurut Al Ghazali, para sahabat Nabi bukanlah sosok yang suka bermalas-malasan. Melainkan, sosok yang suka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka ada yang berdagang mengarungi daratan maupun lautan. Ada pula yang bertani dengan mengolah perkebunan kurma.
Namun, jika ada tugas kenegaraan maupun keumatan memanggil, mereka juga rela meninggalkan pekerjaannya. Itu seperti dicontohkan oleh Abu Bakar ketika terpilih sebagai khalifah sepeninggal Nabi Muhammad.
Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Awas! Takabur Bisa Seret Tiga Sifat Buruk Berikut Ini
Oleh para sahabat yang lain, Abu Bakar yang memang dikenal sebagai saudagar diminta untuk meninggalkan bisnisnya. Lalu, berkonsentrasi pada tugas kekhalifahannya. Abu Bakar pun memenuhi hal itu. Bisnisnya ditinggalkan. Untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup hariannya, ia dijatah oleh negara lewat Baitul Mal. Namun, sebelum wafat, Abu Bakar berwasiat agar uang itu dikembalikan ke Baitul Mal.
Imam Ahmad ibnu Hanbal pernah ditanya pendapatnya tentang seseorang yang enggan bekerja karena yakin rezeki akan datang dengan sendirinya. Atas hal itu, ia mengatakan bahwa orang tersebut termasuk sangat bodoh dan tidak paham terhadap agama.
Sebab, katanya, Nabi Muhammad saja bersabda demikian, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan rezekiku di bawah tombakku.” (HR Ahmad). Artinya, rezeki Nabi saja tergantung pada usaha beliau sendiri.
Nabi juga telah mencontohkan bagaimana seekor burung memperoleh rezekinya, yaitu dengan bekerja. “Berangkat pagi-pagi dengan perut dalam keadaan kosong dan pulang sore-sore dengan perut dalam keadaan penuh.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Editor : Tauhid Wijaya