Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bukan Pelit, Ini Alasan Gen Z Mulai Terapkan Soft Saving: Gaji Tetap Aman, Healing Jalan Terus!

Parahita Ade Kumala • Senin, 13 Juli 2026 | 06:50 WIB
ILUSTRASI Soft saving Kalangan GEN Z (sumber foto: magnific)
ILUSTRASI Soft saving Kalangan GEN Z (sumber foto: magnific)

MALANG, RADAR MALANG – Menabung identik dengan hidup hemat dan menahan keinginan belanja. Namun, pola pikir tersebut kini mulai bergeser di kalangan Generasi Z. Muncul tren baru bernama soft saving, yakni cara mengelola keuangan yang lebih santai, fleksibel, tetapi tetap bertanggung jawab.

Alih-alih memaksakan diri menyisihkan sebagian besar penghasilan setiap bulan, soft saving mengajak seseorang menabung sesuai kemampuan tanpa mengorbankan kualitas hidup. Tren ini semakin populer karena dianggap mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan finansial dan kesehatan mental.

Bagi banyak anak muda, memiliki uang bukan hanya soal mempersiapkan masa depan, tetapi juga menikmati hasil kerja keras di masa sekarang. Oleh karena itu, mereka tetap mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan hiburan seperti nongkrong di coffee shop, menonton konser, traveling singkat, hingga membeli barang yang memang diinginkan. Namun, semua dilakukan dengan perhitungan yang matang, bukan impulsif.

Berbeda dengan metode menabung konvensional yang cenderung kaku, soft saving mengedepankan konsep mindful spending atau pengeluaran yang disadari. Artinya, setiap rupiah yang dikeluarkan memiliki tujuan jelas dan memberikan manfaat bagi diri sendiri. Pengeluaran untuk self-care, pengembangan diri, atau pengalaman baru dianggap sebagai investasi terhadap kualitas hidup, bukan sekadar pemborosan.

Baca Juga: Reputasi Pelatih Semifinal Piala Dunia 2026: Deretan Juara Dunia hingga Raja Eropa, Siapa Paling Layak ke Final?

Meski terlihat santai, bukan berarti pelaku soft saving mengabaikan tabungan. Mereka tetap menyisihkan sebagian penghasilan secara konsisten, meskipun nominalnya tidak besar. Banyak yang memanfaatkan fitur autodebet pada aplikasi perbankan digital agar proses menabung berlangsung otomatis setiap bulan tanpa terasa memberatkan.

Pendekatan ini dinilai mampu mengurangi tekanan finansial yang sering dialami anak muda. Tidak sedikit Gen Z yang merasa terjebak dalam tuntutan untuk segera memiliki rumah, kendaraan, hingga dana pensiun di usia muda. Soft saving hadir sebagai alternatif agar target keuangan tetap berjalan tanpa memicu financial burnout atau kelelahan akibat terlalu keras mengatur pengeluaran.

Meski demikian, para perencana keuangan mengingatkan bahwa soft saving tetap harus dibarengi dengan perencanaan yang matang. Menabung dengan nominal terlalu kecil dalam jangka panjang berisiko membuat target finansial besar, seperti dana pensiun atau membeli rumah, menjadi lebih sulit tercapai. Oleh karena itu, keseimbangan tetap menjadi kunci utama.

Selain memiliki tabungan rutin, pelaku soft saving juga dianjurkan tetap menyiapkan dana darurat sebagai perlindungan ketika menghadapi kondisi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan kesehatan mendesak.

Hal ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap uang. Jika dulu menabung identik dengan menahan diri, kini banyak Gen Z percaya bahwa mengelola keuangan bukan sekadar memperkaya rekening, tetapi juga menjaga kualitas hidup. Selama dilakukan dengan bijak, mereka yakin gaji tetap aman, tabungan terus bertambah, dan kesempatan untuk healing pun tetap bisa dinikmati tanpa rasa bersalah.

Baca Juga: Minuman Rendah Gula Makin Dilirik, Gaya Hidup Sehat Mulai Mengubah Pilihan Konsumen

Editor : Aditya Novrian
#frugal living #soft saving #hemat #menabung #Gen Z