Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Republik Tepung Viral! Dari Seblak hingga Baso Aci, Cerminan Gaya Hidup atau Tekanan Ekonomi?

Parahita Ade Kumala • Senin, 13 Juli 2026 | 23:00 WIB
ILUSTRASI Fenomena Republik Tepung tengah viral di media sosial (sumber foto: magnific)
ILUSTRASI Fenomena Republik Tepung tengah viral di media sosial (sumber foto: magnific)

MALANG, RADAR MALANG – Seblak, baso aci, cilok, mi instan, gorengan, hingga aneka jajanan berbahan tepung kini seolah menjadi makanan yang tak pernah sepi peminat. Hampir di setiap sudut kota, jajanan tersebut mudah ditemukan dengan harga terjangkau dan antrean pembeli yang panjang. Fenomena inilah yang belakangan ramai disebut sebagai "Republik Tepung", istilah yang menggambarkan tingginya ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap makanan olahan berbasis tepung.

Di balik viralnya istilah tersebut, banyak pihak menilai fenomena ini bukan sekadar soal selera makan. Republik Tepung dinilai menjadi cerminan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat dan lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif, makanan berbahan tepung menjadi pilihan karena murah, mudah didapat, sekaligus mengenyangkan. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang menjadikan jajanan berbasis tepung sebagai peluang usaha untuk mempertahankan ekonomi keluarga.

Baca Juga: Detik-Detik Kebakaran Pasar Turen Bawah Terekam Kamera Warga, Tonton Video Lengkapnya di Sini

Murah dan mengenyangkan menjadi alasan utama. Dibandingkan makanan dengan kandungan protein yang lebih tinggi, jajanan seperti seblak, cilok, baso aci, hingga gorengan bisa dinikmati hanya dengan mengeluarkan uang mulai Rp5.000 hingga Rp15.000. Harga tersebut jauh lebih ramah bagi pelajar, mahasiswa, hingga pekerja harian, sehingga permintaannya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Di sisi lain, bisnis jajanan tepung juga tumbuh pesat. Modal yang relatif kecil, proses pembuatan yang mudah, dan pasar yang luas membuat banyak orang memilih membuka usaha makanan berbahan tepung. Mulai dari gerobak kaki lima hingga konsep kafe modern, menu seperti seblak dan baso aci kini menjadi salah satu bisnis kuliner yang paling mudah ditemui. Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat berusaha bertahan di tengah kondisi ekonomi dengan menciptakan peluang usaha yang lebih realistis.

Media sosial ikut memperkuat tren tersebut. Konten mukbang, review makanan pedas, hingga video antrean jajanan viral membuat makanan berbahan tepung semakin populer, terutama di kalangan Gen Z. Tak sedikit pelaku usaha yang sengaja menciptakan menu unik atau level kepedasan ekstrem demi menarik perhatian pengguna TikTok maupun Instagram.

Namun, fenomena Republik Tepung juga memunculkan kekhawatiran dari sisi kesehatan. Pakar kesehatan mengingatkan bahwa konsumsi makanan berbahan tepung secara berlebihan, terutama yang tinggi minyak, garam, dan penyedap, dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, hingga gangguan metabolisme apabila tidak diimbangi dengan pola makan bergizi dan aktivitas fisik yang cukup.

Selain itu, fenomena ini juga membuka kembali pembahasan mengenai ketergantungan Indonesia terhadap gandum impor sebagai bahan baku tepung terigu. Padahal, Indonesia memiliki banyak sumber karbohidrat lokal seperti singkong, jagung, sagu, maupun umbi-umbian yang berpotensi dikembangkan sebagai alternatif pangan.

Republik Tepung bukan hanya soal makanan yang sedang viral. Fenomena ini menjadi potret bagaimana gaya hidup, kondisi ekonomi, tren media sosial, hingga pola konsumsi masyarakat saling berkaitan. Jajanan tepung memang murah, praktis, dan mengenyangkan, tetapi masyarakat juga perlu tetap menjaga keseimbangan gizi agar tren tersebut tidak berubah menjadi ancaman bagi kesehatan di masa mendatang.

Baca Juga: Gudang Sayur dan Dua Bedak Pasar Turen Bawah Terbakar, Api Diduga Berasal dari Tempat Pembuangan Sampah

Editor : Aditya Novrian
#republik tepung #makanan tidak sehat #gorengan #seblak #Tepung