MALANG, RADAR MALANG – BRI Jazz Gunung Bromo 2026 menghadirkan pengalaman berbeda dengan menggelar rangkaian kegiatan selama delapan hari sebelum konser utama berlangsung. Festival ini tak hanya menawarkan pertunjukan musik jazz, tetapi juga menggabungkan seni, budaya, edukasi, wisata alam, hingga pemberdayaan pelaku ekonomi kreatif di kawasan Bromo.
Rangkaian pre-event dijadwalkan berlangsung pada 18–25 Juli 2026. Sementara konser utama akan digelar pada 24–25 Juli 2026 di Amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo. Seluruh program dirancang sebagai satu kesatuan pengalaman yang menghubungkan musik dengan kekayaan budaya dan alam Pegunungan Bromo.
Selama hampir dua dekade penyelenggaraannya, Jazz Gunung dikenal sebagai curated concert. Konsep tersebut menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya berfokus pada deretan musisi, tetapi juga mengkurasi lanskap, seni visual, budaya lokal, hingga keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari pengalaman festival.
Pre-Event Dimulai 18 Juli
Rangkaian BRI Jazz Gunung Bromo 2026 dibuka melalui program Bromo Sunset Music and Culture di Seruni Point pada 18 Juli. Kegiatan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Probolinggo dan Jazz Gunung Indonesia itu menghadirkan pertunjukan NonaRia, Komunitas Kemisan Jazz Malang, Sendratari Jathilan Majapahit, serta beragam kesenian tradisional.
Selain pertunjukan seni, pengunjung juga dapat menikmati bazar UMKM dan Pestaraya Soto Nusantara. Seluruh kegiatan pembuka tersebut terbuka untuk masyarakat tanpa dipungut biaya.
Keesokan harinya, 19 Juli, penyelenggara mengajak peserta mengikuti Jazz Gunung Pagi-Pagi Trekking Club. Program ini menawarkan pengalaman menikmati lanskap Bromo melalui jalur trekking santai sebelum kawasan tersebut menjadi lokasi konser pada akhir pekan berikutnya.
Bromo Jazz Camp Cetak Musisi Muda
Komitmen Jazz Gunung Indonesia terhadap regenerasi musisi jazz kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan Bromo Jazz Camp yang memasuki tahun ketiga.
Program tersebut memberi kesempatan kepada musisi muda mengikuti workshop intensif sekaligus tampil di panggung Jazz Gunung bersama mentor berpengalaman, seperti Sri Hanuraga, Kevin Yosua, Hansen Arief, Nesia Ardi, Alfado Jacob, hingga CEO Jazz Gunung Indonesia Bagas Indyatmono.
Baca Juga: Bikin Pengalaman Jazz Gunung Bromo 2024 Makin Romantis dengan BRImo di Genggamanmu
Rangkaian edukasi juga dilengkapi Stage Photography Workshop bersama fotografer panggung Gladina Saska di IFI Surabaya pada 21 Juli. Selanjutnya, peserta Jazz Camp akan tampil dalam Intimate Jazz Camp Showcase pada 22 Juli dan pertunjukan kolaboratif Turun Gunung bersama Komunitas Kemisan Jazz Malang pada 23 Juli.
Pameran Seni Angkat Bromo dan Budaya Tengger
Selain musik, festival tahun ini menghadirkan pameran seni rupa bertajuk Bromo: A Landscape of Signs.
Pameran hasil kolaborasi Yayasan Senetra, Jiwa Jawa Resort Bromo, ISI Yogyakarta, dan Kelompok Derik Pasuruan dengan kurator Mikke Susanto itu mengajak pengunjung memandang Gunung Bromo bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang yang menyimpan sejarah visual, mitologi masyarakat Tengger, memori kolektif, hingga refleksi hubungan manusia dengan alam.
Melalui konsep tersebut, BRI Jazz Gunung Bromo 2026 diharapkan menjadi lebih dari sekadar festival musik. Setiap rangkaian acara dirancang untuk menghadirkan pengalaman budaya yang menyatukan seni, alam, edukasi, serta ekonomi kreatif dalam satu ekosistem pariwisata berkelanjutan.
Editor : Aditya Novrian