MALANG, RADAR MALANG – Di hampir setiap keluarga, anak kedua kerap mendapat julukan sebagai sosok yang paling usil, paling berani, sekaligus paling sering membuat suasana rumah menjadi ramai. Anggapan tersebut ternyata bukan sekadar candaan di media sosial. Sejumlah penelitian, termasuk dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), menemukan adanya kecenderungan anak kedua, khususnya laki-laki, lebih sering terlibat dalam masalah disiplin dibandingkan anak sulung.
Dalam penelitian tersebut, anak kedua tercatat memiliki peluang sekitar 20 hingga 40 persen lebih tinggi mengalami persoalan perilaku, baik di lingkungan sekolah maupun kehidupan sosial. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini menunjukkan kecenderungan statistik, bukan berarti seluruh anak kedua memiliki sifat yang sama.
Baca Juga: Jelang Konser Mitski di Jakarta Sabtu Ini, Tiket Masih Tersedia
Fenomena ini dikaitkan dengan teori birth order atau urutan kelahiran. Anak pertama umumnya tumbuh dengan perhatian penuh dari orang tua. Sementara itu, anak kedua sejak lahir sudah harus berbagi perhatian dengan kakaknya sehingga lebih terdorong mencari cara agar dirinya diperhatikan.
Selain itu, anak kedua juga memiliki sosok panutan yang berbeda. Jika anak pertama lebih banyak belajar langsung dari orang tua, anak kedua cenderung meniru perilaku kakaknya. Ketika kakak melakukan hal-hal berani atau melanggar aturan, adik lebih mudah menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang wajar untuk dicoba.
Persaingan antarsaudara juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Banyak anak kedua berusaha tampil berbeda agar memiliki identitas sendiri di dalam keluarga. Cara yang dipilih bisa berupa menjadi lebih aktif, lebih kompetitif, lebih berani, bahkan terkadang lebih usil dibanding saudara lainnya.
Meski begitu, karakter tersebut tidak selalu berdampak negatif. Banyak psikolog menilai anak kedua justru tumbuh menjadi pribadi yang lebih adaptif, mandiri, mudah bergaul, serta mampu menghadapi perubahan dengan lebih baik karena sejak kecil terbiasa bersaing dan bernegosiasi dengan saudara kandung.
Jadi, jika anak kedua di rumah sering dianggap sebagai sumber keramaian, mungkin itu bukan semata-mata karena nakal. Bisa jadi, mereka hanya sedang menunjukkan cara unik untuk menemukan tempatnya sendiri di tengah keluarga.
Editor : Aditya NovrianSumber : Diolah dari berbagai sumber