Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: 3 Bahaya Lisan menurut Al Ghazali, Salah Satunya NATO

Tauhid Wijaya • Jumat, 17 Juli 2026 | 05:15 WIB

 

JAGA MULUT: Menurut Al Ghazali, banyak sekali bahaya dari lisan. Kita diminta untuk menjaganya. (GAMBAR ILUSTRASI AI)
JAGA MULUT: Menurut Al Ghazali, banyak sekali bahaya dari lisan. Kita diminta untuk menjaganya. (GAMBAR ILUSTRASI AI)

 

RADAR MALANG- Apa saja bahaya lisan alias afatul lisan menurut Imam Al Ghazali? Ada banyak. Beberapa di antaranya, sebagaimana ditulis dalam Ihya Ulumuddin, adalah sebagai berikut.

Pertama, berkata yang tidak berguna. Al Ghazali mengatakan bahwa pada dasarnya waktu adalah harta yang paling berharga. Dalam ungkapan Barat, time is money.

Maka, jika seseorang menggunakan waktunya untuk hal-hal yang tidak membawa manfaat bagi dirinya atau tidak menggunakan waktunya untuk hal-hal yang mendatangkan pahala, berarti telah menyia-nyiakan hartanya yang paling berharga

Nabi SAW bersabda, “Sebagian dari tanda kebaikan Islamnya seseorang adalah jika ia meninggalkan apa-apa yang tidak diperlukan.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Baca Juga: Ngaji Jumat, Ihya Ulumuddin: Ini Enam Mukjizat Nabi Muhammad menurut Imam Ghazali

Apa saja hal-hal yang tidak bermanfaat itu? Kata Al Ghazali, antara lain adalah ngobrol, bercerita yang bukan-bukan, atau mempercakapkan hal yang tidak ada faedahnya sama sekali. 

Untuk mengobati penyakit ini, Al Ghazali menyarankan untuk kembali pada kesadaran bahwa setiap napas yang diembuskan adalah harta yang paling berharga. Dan, lisan adalah perangkat untuk memburu segala kebaikan yang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Kedua, berlebih-lebihan dalam berkata. Contoh berlebih-lebihan di sini, menurut Al Ghazali, bisa berwujud memperdalam percakapan atau kata-kata yang tidak ada manfaatnya. Atau, berlebih-lebihan dalam mempercakapkan yang ada kemanfaatan untuk dirinya.

Termasuk pula, memperbincangkan sesuatu yang mestinya bisa ringkas, tapi malah dipanjang-panjangkan. Apa yang sebenarnya cukup disampaikan dengan jelas dalam satu kalimat, maka kalimat kedua menurut Al Ghazali sudah merupakan kelebihan.

Memang, tidak mudah untuk menahan omongan yang berlebihan itu. Al Ghazali berpesan untuk mengingat firman Allah SWT dalam QS An Nisa: 114 yang artinya sebagai berikut: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) bersedekah atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia…”

Baca Juga: Ngaji Jumat Ihya Ulumuddin: Kita Boleh Menolak Undangan dalam 3 Hal Ini Menurut Al Ghazali

Al Ghazali mengkritik situasi di zamannya (dan masih berlaku sampai sekarang) tentang kecenderungan orang yang berbusa-busa dalam ajaran agama, sementara kelebihan pada hartanya justru ditahan-tahan untuk bersedekah. Dalam ungkapan modern populer, no action talk only (NATO).

Kecenderungan itu pula yang dibenci oleh kaum salaf (generasi awal Islam yang hidup semasa Nabi dan setelahnya). Ibnu Umar bahkan sampai berkata, “Yang lebih penting untuk dibersihkan oleh seseorang adalah lisannya.”

Ketiga, bercakap-cakap dalam kebatilan. Ini jelas termasuk dalam afatul lisan. Yakni, memperbincangkan tentang berbagai kemaksiatan, cabul, menggunjing, dan topik-topik lain yang bersifat batil alias jahat. Ma-lima: maling, madon (berzina), madat (narkoba), mabuk, dan main (berjudi).

Al Ghazali mengingatkan lewat sebuah hadis Nabi SAW yang diriwayatkan Ibnu Abiddunya dan Thabrani: “Sebesar-besar kesalahan seseorang pada hari kiamat adalah yang terbanyak omong kosongnya dalam hal kebatilan.”

Begitu pula dengan firman Allah SWT dalam QS Al Mudatstir: 45: “Wakunnaa nakhudlu ma’al kha-idliin yang artinya: Bahkan kami selalu berbincang (untuk tujuan batil) bersama dengan orang-orang yang membincangkannya (sehingga masuk neraka Saqar).”

 

 

*) Disarikan dari Bimbingan untuk Mencapai Tingkat Mukmin, Moh. Abdai Rathomy, terjemahan dari Mauidhatul Mu’minin karya Muhammad Jamaluddin Al Qasimi Addimasyqi yang merupakan ringkasan dari Ihya Ulumuddin karya Imam Al Ghazali.

Editor : Tauhid Wijaya
ngaji jumat ihya ulumuddin imam al ghazali radarmalang