MALANG, RADAR MALANG – Pernah berniat membuka ponsel hanya lima menit, tetapi tanpa sadar sudah menghabiskan waktu hingga berjam-jam? Fenomena ini semakin sering dialami masyarakat, terutama generasi muda, seiring berkembangnya media sosial yang dirancang untuk membuat pengguna terus berinteraksi dengan konten.
Baca Juga: Menuju Bromo Jangan Langsung Gas! Ini 3 Cafe yang Wajib Disinggahi di Jalur Malang–Bromo
Salah satu penyebabnya adalah fitur infinite scroll, yakni tampilan konten yang terus muncul tanpa batas. Ketika satu video atau unggahan selesai dilihat, algoritma akan langsung menyajikan konten berikutnya yang dinilai sesuai dengan minat pengguna. Akibatnya, otak tidak memiliki sinyal alami untuk berhenti sehingga rasa waktu menjadi kabur.
Di balik kebiasaan tersebut terdapat mekanisme yang dikenal sebagai dopamine loop. Setiap kali menemukan konten yang menghibur atau menarik, otak melepaskan dopamin, zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Proses ini mendorong seseorang untuk terus menggulir layar demi mencari pengalaman serupa, meski awalnya tidak memiliki tujuan tertentu saat membuka ponsel.
Baca Juga: Merchandise Custom Makin Digemari, Bisnis Keychain dan Keyring Personal Ikut Tumbuh
Fenomena tersebut juga berkaitan dengan konsep attention economy, yaitu persaingan berbagai platform digital untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Semakin lama seseorang berada di aplikasi, semakin besar peluang munculnya iklan maupun rekomendasi produk yang disesuaikan dengan kebiasaan pengguna.
Dampaknya tidak hanya pada berkurangnya waktu produktif, tetapi juga terhadap pola konsumsi. Paparan iklan, promosi kilat, hingga rekomendasi produk yang muncul berulang kali dapat memicu pembelian impulsif. Banyak orang akhirnya membeli barang yang sebenarnya tidak direncanakan hanya karena tertarik setelah melihat kontennya berulang kali.
Baca Juga: Porsi Pas Buat Sendiri! Rekomendasi Martabak Manis Mini di Malang yang Ramah di Kantong Anak Kos
Membatasi durasi penggunaan ponsel, memanfaatkan fitur pengingat waktu layar, serta menghindari membuka media sosial saat sedang bekerja atau belajar dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi kebiasaan tersebut. Dengan penggunaan yang lebih bijak, masyarakat dapat memanfaatkan teknologi sebagai alat pendukung aktivitas tanpa kehilangan waktu maupun kendali atas pengeluaran sehari-hari.
Editor : Aditya Novrian