MALANG KOTA, RADAR MALANG - Gelaran seni tahunan Mini Art Malang (MAM) kembali hadir pada tahun 2026 dengan membawa ragam perspektif visual yang segar. Salah satu yang menarik perhatian dalam pameran tersebut yakni kehadiran Happy Wahyu Firdaus SSn yang merupakan akademisi sekaligus praktisi seni.
Di tengah kesibukan akademisnya, dia membuktikan eksistensinya dalam dunia seni rupa murni dengan menggelar pameran tunggal di Zona 5.
Bertajuk Rupa Muda, dalam pameran tunggalnya tersebut, dia memamerkan delapan karya yang terdiri dari ukuran besar, sedang, hingga media gipsum kecil yang dibuat menggunakan teknik seni grafis etsa (etching). Salah satu karya yang dipamerkan bertajuk After the Anthropocene.
“Secara garis besar, karya ini menghadirkan isu kerusakan lingkungan, bukan sebagai peristiwa saja. Tetapi kondisi yang cukup eksistensial dalam permasalahan,” ujarnya.
Melalui karya berukuran 160x130 sentimeter ini, dia menyampaikan terkait bagaimana ego manusia, kekuasaan, relasi kuasa terhadap salah satu entitas maupun ekosistem yang membuat semuanya mengalami perubahan signifikan.
“Sehingga secara tidak langsung, kerusakan tersebut pada akhirnya akan kembali ke manusia itu sendiri. Jadi manusia saat ini tidak merasakan dampaknya, akan tetapi nantinya itu akan saling berkaitan,” imbuh Staf Laboratorium Ilmu Humaniora, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya (FIB UB) itu.
Sesuai dengan nama dan konsep awalnya, Mini Art Malang memiliki keunikan tersendiri. Karya-karya yang disubmit para seniman memiliki kesepakatan ukuran yang cenderung kecil, yaitu sekitar 40x50 sentimeter. Di Zona 1, tercatat ada sekitar 200 seniman dari berbagai daerah yang lolos seleksi dan berpartisipasi memamerkan karya mereka. Tahun ini, para seniman ditantang untuk merespons tema utama pameran, yaitu Khatulistiwa.
Sementara itu, Kurator Pameran Mini Art Malang Leck Budi menyebut, terdapat beberapa zona di MAM tersebut. Misalnya Pameran Sepilihan yang memilih 14 seniman muda dari Jawa Timur dan Paviliun Kota yang tahun ini memilih dari Pasuruan Raya.
“Ada juga pameran tugas akhir. Jadi karya-karya dari mahasiswa yang sudah lulus, mantan mahasiswa, yang selama jadi mahasiswa dia mengerjakan tugas akhir juga dipamerkan,” pungkasnya. (*)
Indah Mei Yunita
Editor : A. Nugroho