Gen Z Punya Cara Sendiri Menjalani Hidup, Bukan Malas tapi Lebih Realistis?

Parahita Ade Kumala • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 02:00 WIB
ILUSTRASI Cara pandang Gen Z terhadap hidup mulai berubah (sumber foto: magnific)
ILUSTRASI Cara pandang Gen Z terhadap hidup mulai berubah (sumber foto: magnific)

MALANG, RADAR MALANG – Jika dulu kesuksesan identik dengan memiliki pekerjaan tetap, rumah, kendaraan, lalu menikah di usia tertentu, Gen Z mulai memandang hidup dengan definisi yang berbeda. Bagi mereka, sukses tidak lagi sekadar soal jabatan atau gaji besar, melainkan bagaimana bisa menjalani hidup dengan lebih tenang, sehat secara mental, dan tetap memiliki waktu untuk diri sendiri.

Lahir di tengah perkembangan internet, media sosial, pandemi, hingga ketidakpastian ekonomi membuat Gen Z tumbuh menjadi generasi yang lebih realistis. Mereka sadar bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda sehingga tidak lagi terpaku pada satu standar keberhasilan.

Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya anak muda yang memilih menjadi freelancer, membangun bisnis digital, atau menjadi content creator. Bukan karena enggan bekerja keras, tetapi karena mereka ingin memiliki fleksibilitas dan ruang untuk berkembang sesuai minatnya.

Baca Juga: Arema Goes to School Kembali Digelar, Tanamkan Sportivitas dan Budaya Suporter Positif kepada Pelajar

Di sisi lain, kesehatan mental menjadi isu yang sangat diperhatikan. Istilah seperti burnout, self-care, healing, hingga boundaries kini bukan lagi sekadar tren media sosial, melainkan bentuk kesadaran bahwa produktif tidak boleh mengorbankan kondisi psikologis.

Meski sering dicap santai, banyak Gen Z justru menyimpan kecemasan besar terhadap masa depan. Harga rumah yang terus meningkat, persaingan kerja yang semakin ketat, hingga tuntutan untuk selalu berkembang memunculkan fenomena quarter-life crisis yang banyak dialami anak muda.

Oleh karena itulah, Gen Z cenderung lebih berani meninggalkan lingkungan kerja yang dianggap tidak sehat, memilih pekerjaan yang membuat mereka bahagia, atau mengejar pengalaman hidup dibanding sekadar status sosial.

Cara pandang hidup Gen Z bukan berarti mereka anti kerja keras. Mereka hanya ingin membuktikan bahwa hidup bukan soal memenuhi ekspektasi orang lain, melainkan menemukan versi terbaik yang paling sesuai dengan diri sendiri.

Baca Juga: Struktur Bangunan Kuno Ditemukan di Jalan Kemantren I Malang, Kemungkinan dari Kerajaan Majapahit

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
realistis quarter-life crisis mental health lifestyle Gen Z