MALANG, RADAR MALANG – Pasti kalian pernah dengar seseorang berkata, “Beli kopi tiap hari? In this economy?” atau “Liburan ke luar negeri? In this economy?” Kalimat tersebut kini semakin sering muncul di media sosial hingga percakapan sehari-hari, terutama di kalangan Generasi Z.
Sekilas terdengar seperti candaan, tetapi frasa “in this economy” sebenarnya menjadi sindiran yang menggambarkan kondisi ekonomi saat ini. Istilah tersebut dipakai untuk merespons mahalnya biaya hidup, tingginya inflasi, hingga sulitnya mencapai target finansial seperti membeli rumah atau memiliki tabungan dalam jumlah besar.
Baca Juga: Dari Gubuk Galejo, DZ Sandyarto Menghidupkan Kembali Rinding Malang
Bagi banyak Gen Z, kalimat ini menjadi cara paling sederhana untuk mengatakan bahwa kondisi keuangan tidak sejalan dengan keinginan. Mereka mulai lebih selektif dalam mengeluarkan uang, bahkan untuk kebutuhan hiburan sekalipun.
Tak sedikit anak muda yang kini memilih memasak di rumah dibanding makan di restoran, menunda membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan, hingga mencari promo sebelum berbelanja. Semua itu dilakukan demi menjaga kondisi keuangan tetap stabil.
Menariknya, di balik budaya hemat tersebut muncul fenomena baru seperti loud budgeting, yaitu terbuka mengakui bahwa anggaran sedang terbatas tanpa merasa malu. Di sisi lain, ada pula doom spending, kebiasaan membeli sesuatu demi mengurangi stres karena merasa masa depan ekonomi semakin sulit diprediksi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa cara Gen Z mengelola uang mulai berubah. Mereka tidak lagi sekadar mengejar gaya hidup, tetapi lebih mempertimbangkan nilai dan manfaat dari setiap pengeluaran.
Meski sering dijadikan bahan meme dan candaan di media sosial, frasa “in this economy” sebenarnya menjadi potret nyata kondisi yang dihadapi banyak anak muda saat ini. Di tengah harga kebutuhan yang terus meningkat dan ketidakpastian ekonomi, hidup hemat bukan lagi sekadar pilihan, melainkan strategi untuk bertahan.
Editor : Aditya NovrianSumber : Diolah dari berbagai sumber