Beli karena Lucu atau Butuh? Fenomena Impulse Buying Masih Mengintai

Ayshaputri Raihana Azzahra • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 06:00 WIB
ILUSTRASI Impulsive Buying bikin kantong kering. (Magnific)
ILUSTRASI Impulsive Buying bikin kantong kering. (Magnific)

MALANG, RADAR MALANG – Pernah membeli barang hanya karena terlihat lucu atau sedang viral di media sosial? Kebiasaan tersebut dikenal sebagai impulse buying, yaitu keputusan membeli yang dilakukan secara spontan tanpa perencanaan matang. Fenomena ini masih banyak ditemui, terutama di kalangan generasi muda yang aktif menggunakan platform digital.

Baca Juga: Tooth Gems Viral Lagi Gara-Gara Naykilla, Estetik Banget Tapi Aman Nggak Ya Buat Gigi?

Media sosial berperan besar dalam mendorong perilaku tersebut. Video ulasan produk, siaran langsung penjualan, hingga rekomendasi dari kreator konten membuat banyak orang tertarik mencoba barang yang sebenarnya tidak masuk dalam daftar kebutuhan. Ditambah kemudahan pembayaran digital dan proses checkout yang cepat, keputusan membeli sering kali dilakukan hanya dalam hitungan menit.

Dari sisi ekonomi, impulse buying dapat membuat pengeluaran bulanan sulit dikendalikan apabila dilakukan berulang. Nominal pembelian yang tampak kecil bisa menjadi cukup besar ketika diakumulasikan dalam satu bulan. Karena itu, banyak perencana keuangan menyarankan masyarakat membiasakan jeda sebelum membeli, misalnya dengan menunggu 24 jam untuk memastikan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

Baca Juga: Surganya Pecinta Bunga! Ini 3 Wisata Floral di Malang yang Cantik untuk Healing dan Foto-foto

Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi peluang bagi pelaku UMKM yang mampu menghadirkan produk menarik dan strategi pemasaran kreatif. Namun, konsumen tetap perlu menyeimbangkan keinginan dengan kemampuan finansial agar aktivitas belanja tetap menyenangkan tanpa mengganggu kondisi keuangan.

Editor : Aditya Novrian
impulsive buying kebiasaan ekonomi Fenomena