MALANG, RADAR MALANG – Perfilman Indonesia menyimpan banyak karya berkualitas yang tak hanya mengandalkan popularitas di box office. Sejumlah film mendapat apresiasi dari kritikus dan penonton festival, tetapi belum banyak dibicarakan oleh masyarakat luas. Jika sedang mencari tontonan berbeda, lima film berikut bisa menjadi pilihan untuk mengisi akhir pekan.
3 Hari untuk Selamanya
Film karya Riri Riza ini mengikuti perjalanan Yusuf dan Ambar menuju Yogyakarta untuk menghadiri pernikahan keluarga. Di balik perjalanan tersebut, penonton diajak menyaksikan dinamika hubungan, pencarian jati diri, hingga berbagai percakapan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Hiruk-Pikuk si Al-Kisah
Disutradarai Yosep Anggi Noen, film ini mengikuti Siman, pria desa yang menyaksikan rekayasa pendaratan di bulan pada 1962. Setelah lidahnya dipotong agar bungkam, ia menjalani hidup sebagai sosok yang dianggap gila, sembari mengangkat sejarah politik Indonesia melalui pendekatan puitis dan simbolis.
Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak
Film ini mengangkat kisah Marlina, seorang perempuan di Sumba yang melawan kekerasan setelah sekelompok perampok mendatangi rumahnya. Dengan visual yang khas dan nuansa western, karya Mouly Surya ini mendapat banyak pujian di berbagai festival film internasional.
Aum!
Disutradarai Bambang K.M., Aum! berlatar masa Reformasi 1998. Film ini mengikuti sekelompok mahasiswa yang terlibat dalam perjuangan menuntut perubahan di tengah situasi politik yang memanas.
Selamat Pagi, Malam
Film garapan Lucky Kuswandi ini menghadirkan tiga kisah perempuan dengan latar belakang berbeda yang sama-sama menjalani kehidupan di Jakarta. Melalui cerita yang saling beririsan, film ini menampilkan beragam sisi ibu kota yang jarang terlihat di layar lebar.
Kelima film tersebut menawarkan cerita, gaya penyutradaraan, dan sudut pandang yang berbeda dari film-film arus utama. Meski tak selalu ramai diperbincangkan, karya-karya ini membuktikan bahwa perfilman Indonesia memiliki banyak tontonan berkualitas yang layak mendapat perhatian lebih.
Editor : Aditya NovrianSumber : Diolah dari beberapa sumber