Rangkaian festival dimulai sejak 18 Juli melalui Opening Ceremony di Seruni Point yang menghadirkan pertunjukan seni tradisi dan kuliner Nusantara di tengah lanskap pegunungan Bromo. Selama sepekan berikutnya, penyelenggara menggelar berbagai kegiatan pendukung, mulai dari Bromo Jazz Camp pada 19–24 Juli sebagai ruang pembinaan musisi muda hingga Stage Photography Workshop pada 21 Juli bagi pegiat fotografi.
Puncak festival berlangsung pada 24–25 Juli. Hari pertama menghadirkan Bilal Indrajaya, Bromo Jazz Camp, Isyana Sarasvati, Batavia Collective, Ring of Fire Project, dan Plutato. Sementara hari kedua diisi Littlefingers, Kevin Yosua Big 6, Ali, Simone Prattico Java Collective, Watchdog, hingga penampilan penutup Indra Lesmana bersama Teza Sumendra dan Eva Cellia
Di balik pertunjukan tersebut, Jazz Gunung tetap memegang filosofi yang telah dijaga selama 18 tahun. Founder Jazz Gunung Indonesia, Sigit Pramono, menegaskan bahwa sejak awal festival ini memilih mempertahankan nilai estetika daripada mengejar jumlah penonton semata. Pilihan tersebut memang membuat Jazz Gunung tidak selalu menjadi festival dengan jumlah penonton terbesar, tetapi justru melahirkan identitas yang membedakannya dari festival musik lainya.
Komitmen itu tercermin melalui konsep panggung tunggal yang terus dipertahankan. Alih-alih menghadirkan banyak panggung secara bersamaan, Jazz Gunung memilih menyuguhkan pengalaman menonton yang lebih fokus dengan panorama pegunungan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pertunjukkan.
Baca Juga: Bilal Pilih Frank Sinatra, Isyana Pilih Rawon: Cerita Ringan di Balik Panggung Jazz Gunung Bromo
Semangat kolaborasi tahun ini juga melampaui panggung musik. Yayasan Senetra bersama Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) Universitas Gadjah Mada, serta Kelompok Derik Pasuruan menghadirkan pameran seni rupa bertajuk BROMOPEDIA: A Landscape of Signs di Galeri Jiwa Jawa Resort Bromo.
Pameran yang berlangsung sejak 18 Juli hingga 31 Agustus 2026 tersebut dikuratori oleh Dr. Mikke Susanto, M.A., dan menampilkan 36 karya dari 28 seniman. Selain karya yang dipamerkan di dalam galeri, tiga instalasi luar ruang turut dihadirkan di area festival sehingga pengunjung dapat menikmati dialog antara seni rupa, musik, dan lanskap alam Bromo dalam satu ruang pengalaman yang sama. Kehadiran pameran ini memperluas makna Jazz Gunung sebagai ruang temu lintas disiplin seni.
Di atas panggung konsep kuratorial yang disusun Yuhan juga menjadi benang merah festival tahun ini. Musisi internasional, legenda jazz Indonesia, talenta muda, hingga musisi lintas genre dipertemukan dalam satu rangkaian pertunjukan yang menunjukkan bagaimana jazz dapat berdialog dengan berbagai tradisi music.
Setiap penampil pun meninggalkan cerita tersendiri. Pada hari pertama, Bilal Indrajaya menjalani debutnya di Jazz Gunung Bromo dan menggambarkan pengalamannya dalam tiga kata, yakni "majestic, warm, class." Malam itu ditutup oleh Isyana Sarasvati yang menghadirkan format pertunjukan khusus dengan mengaransemen ulang lagu-lagu bernuansa rock progresif dan metal ke dalam balutan akustik serta chamber music, sebuah eksplorasi yang menurutnya sejalan dengan fase bermusiknya yang kini lebih jujur dan bebas.
Hari kedua menghadirkan warna yang berbeda. Ali membuka sesi Before Sunset dengan sentuhan musik Timur Tengah yang berpadu dengan jazz, sementara Simone Prattico Java Collective mempertemukan permainan drummer asal Italia tersebut dengan kekayaan musikal Indonesia. Kehadiran grup asal Prancis, Watchdog, semakin menegaskan karakter internasional festival tahun ini.
Memasuki usia ke-18, BRI Jazz Gunung Bromo kembali menegaskan identitasnya sebagai festival yang tidak hanya menghadirkan deretan musisi ternama, tetapi juga membangun ruang perjumpaan antara musik, seni, budaya, dan alam. Di tengah banyaknya festival yang berlomba menghadirkan skala besar, Jazz Gunung tetap memilih tumbuh melalui pengalaman yang intim, kolaboratif, dan berakar pada nilai estetika yang menjadi ciri khasnya sejak pertama kali digelar.
Editor : Aditya NovrianSumber : Radar Malang