Indra mengaku terkesan dengan sambutan penonton yang tetap bertahan menikmati pertunjukan hingga lagu terakhir. Menurutnya, antusiasme tersebut patut diapresiasi mengingat cuaca malam di kawasan Bromo jauh lebih dingin dibandingkan daerah lain.
"Cukup antusias ya semuanya, kami salut kepada mereka karena masih bisa mengapresiasi kami di cuaca yang dingin ini, mengingat para penonton cuma duduk aja," ujarnya.
Baginya, semangat penonton menjadi bagian penting dari kehidupan sebuah industri musik. Karena itu, ia menilai regenerasi bukan hanya soal munculnya musisi-musisi baru, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan generasi pendengar yang terus tumbuh agar ekosistem musik tetap hidup.
Baca Juga: Bilal Pilih Frank Sinatra, Isyana Pilih Rawon: Cerita Ringan di Balik Panggung Jazz Gunung Bromo
Menurut Indra, keberlangsungan industri musik tidak akan terlepas dari apresiasi publik terhadap karya-karya yang dihasilkan para musisi. Tanpa adanya penonton, ruang bagi musisi untuk terus berkarya juga akan semakin terbatas.
"Penting banget, karena industri musik membutuhkan penonton untuk bisa terus menunjang ekosistemnya," katanya.
Selain membahas perkembangan industri musik, Indra juga mengungkapkan target pribadi yang hingga kini belum berhasil ia tuntaskan. Ia mengaku tengah mengerjakan sebuah karya simfoni yang prosesnya sudah berjalan lebih dari satu tahun. Namun, kompleksitas penyusunannya membuat proyek tersebut belum juga rampung.
"Bikin simfoni sudah setahun lebih, tapi belum jadi karena memang susah banget. Semoga bisa terselesaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya," ujarnya.
Baca Juga: Indra Lesmana Tutup BRI Jazz Gunung Bromo 2026, Hari Kedua Sarat Kolaborasi Lintas Negara
Di sela wawancara, Indra juga mendapat pertanyaan ringan mengenai lagu yang menurutnya paling tepat untuk menjadi pintu masuk bagi Generasi Z mengenal musik jazz. Tanpa berpikir lama, ia langsung menyebut Reborn, salah satu lagu yang juga dibawakannya dalam konser penutup BRI Jazz Gunung Bromo malam itu.
Pilihan tersebut menunjukkan keyakinannya bahwa karya-karya jazz tetap dapat menjangkau pendengar muda apabila dikemas dengan pendekatan yang relevan. Di tengah karier yang telah berlangsung lebih dari empat dekade, Indra masih terus berbicara tentang masa depan musik jazz Indonesia—mulai dari pentingnya regenerasi, lahirnya penonton baru, hingga keberanian terus menciptakan karya-karya baru yang menantang, seperti simfoni yang masih ia perjuangkan untuk diselesaikan.
Editor : Aditya NovrianSumber : Radar Malang