Nama Ye memang tak hanya dikenal lewat kontribusinya dalam perkembangan musik hip-hop modern, tetapi juga karena berbagai pernyataan dan tindakannya yang berulang kali menuai kritik. Rentetan kontroversi tersebut bahkan berdampak pada hubungan bisnis, pembatalan sejumlah konser, hingga pembatasan aktivitasnya di beberapa negara.
Kontroversi besar mulai memuncak pada 2022. Saat tampil dalam Paris Fashion Week, Ye mengenakan kaus bertuliskan "White Lives Matter", sebuah slogan yang banyak dikaitkan dengan kelompok supremasi kulit putih dan kerap dipandang sebagai tandingan terhadap gerakan Black Lives Matter. Penampilannya langsung menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk figur publik dan pelaku industri mode.
Tak lama berselang, Ye kembali menjadi sorotan setelah mengunggah serangkaian pernyataan bernada antisemit di media sosial. Salah satu unggahannya yang paling banyak menuai kecaman adalah ketika ia menuliskan akan memasuki "death con 3" terhadap orang Yahudi, yang dipahami sebagai permainan kata dari istilah militer DEFCON. Pernyataan tersebut memicu kecaman internasional dan berujung pada pembatasan akun media sosialnya.
Baca Juga: Debut Redup Presiden Kanye West
Dampak kontroversi itu merembet ke dunia bisnis. Pada Oktober 2022, Adidas resmi mengakhiri kemitraan dengan Yeezy yang telah terjalin selama hampir satu dekade. Selain Adidas, sejumlah perusahaan lain seperti Balenciaga, Gap, Foot Locker, hingga agensi bakat CAA juga memutus hubungan kerja sama dengan Ye.
Kontroversi kembali memanas pada 2025. Ye merilis lagu "Heil Hitler", yang memicu kritik luas karena dianggap memuliakan simbol dan tokoh Nazi. Lagu tersebut menuai penolakan di berbagai negara, sementara aktivitas bisnis dan media sosialnya kembali menjadi sorotan. Pada periode yang sama, ia juga sempat menjual produk bergambar swastika melalui toko daring Yeezy sebelum akhirnya layanan tersebut dihentikan.
Imbasnya turut terasa pada agenda tur internasionalnya. Sejumlah jadwal konser di berbagai negara dilaporkan batal atau tidak berlanjut. Beberapa negara juga mengambil langkah berbeda terhadap Ye, mulai dari pembatasan izin pertunjukan hingga kebijakan keimigrasian yang berkaitan dengan rekam jejak kontroversinya.
Meski demikian, Indonesia justru masuk dalam daftar negara yang tetap dijadwalkan menjadi lokasi konsernya. Kabar kedatangan Ye pertama kali muncul melalui acara Ye Bully Listening Party di Jakarta pada April 2026 sebelum akhirnya dikonfirmasi secara resmi oleh promotor.
Pengumuman konser tersebut memunculkan beragam respons di media sosial. Sebagian penggemar menyambut antusias karena menganggap Ye sebagai salah satu musisi paling berpengaruh dalam sejarah hip-hop modern, dengan deretan album berpengaruh serta puluhan nominasi dan penghargaan Grammy Awards.
Di sisi lain, tidak sedikit yang mempertanyakan keputusan mendatangkan Ye ke Indonesia. Kritik tersebut mengacu pada rekam jejak kontroversinya, mulai dari pernyataan antisemit, penggunaan simbol-simbol Nazi dalam karya dan produk komersialnya, hingga berbagai sikap yang selama ini memicu perdebatan di tingkat internasional.
Terlepas dari polemik tersebut, promotor memastikan konser tetap berjalan sesuai rencana. Penjualan tiket juga telah dibuka melalui situs resmi penyelenggara dengan beberapa kategori harga yang disiapkan bagi penonton.
Editor : Aditya NovrianSumber : Diolah dari berbagai sumber