Begini Cara Kerja Rotten Tomatoes, Situs Pemberi Skor Film yang Jadi Acuan Dunia

Hanif Pratama • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 00:13 WIB
ss
Tampilan laman Rotten Tomatoes. (Sumber: Laman resmi Rotten Tomatoes)
MALANG, RADAR MALANG – Bagi pencinta film, nama Rotten Tomatoes hampir selalu muncul menjelang perilisan sebuah film baru. Skor yang ditampilkan situs ini bahkan kerap menjadi bahan promosi di poster, trailer, hingga media sosial. Tak sedikit penonton yang menjadikan angkanya sebagai pertimbangan sebelum membeli tiket bioskop.

Namun, di balik persentase yang terpampang di halaman utama Rotten Tomatoes, masih banyak orang yang salah memahami cara kerja sistem penilaiannya. Skor tinggi belum tentu berarti sebuah film dianggap sempurna, begitu pula skor rendah tidak selalu menandakan film tersebut buruk secara mutlak.

Kesalahpahaman paling umum adalah menganggap skor Rotten Tomatoes sebagai rata-rata nilai yang diberikan para kritikus, layaknya nilai 8 dari 10. Padahal, sistem yang digunakan berbeda.

Yang ditampilkan sebagai Tomatometer bukanlah rata-rata skor, melainkan persentase ulasan positif dari seluruh kritikus yang telah terverifikasi. Dengan kata lain, apabila sebuah film memperoleh Tomatometer 85 persen, artinya 85 persen dari seluruh ulasan yang masuk dikategorikan sebagai ulasan positif (fresh), sedangkan sisanya dinilai negatif (rotten).

Karena menggunakan sistem tersebut, sebuah film tetap bisa memperoleh skor sempurna 100 persen meski para kritikus hanya memberikan penilaian "cukup bagus", selama seluruh ulasan mereka masih masuk kategori positif. Sebaliknya, film dengan skor rendah belum tentu dibenci semua kritikus, melainkan mayoritas ulasan yang diterima lebih condong ke arah negatif.

Siapa yang Menentukan Skor?

Tomatometer disusun berdasarkan ulasan ribuan kritikus film dan televisi dari berbagai negara yang telah memenuhi standar sebagai Approved Tomatometer Critics. Mereka berasal dari media cetak, televisi, radio, hingga media digital yang dinilai memiliki rekam jejak serta kredibilitas dalam dunia kritik film.

Setiap kritikus menulis ulasannya secara independen, kemudian menentukan apakah ulasan tersebut tergolong fresh atau rotten. Dalam beberapa kasus, tim editorial Rotten Tomatoes juga membantu mengklasifikasikan ulasan yang tidak memberikan penilaian secara eksplisit.

Di antara para kritikus tersebut, terdapat kelompok Top Critics, yakni kritikus dari media-media besar atau tokoh yang memiliki pengaruh signifikan di industri perfilman. Penilaian mereka menjadi salah satu syarat penting dalam pemberian label Certified Fresh.

Empat Status yang Dimiliki Sebuah Film

Berdasarkan jumlah ulasan dan persentase Tomatometer, Rotten Tomatoes membagi film ke dalam beberapa kategori.

Rotten ditandai dengan ikon tomat hijau yang pecah. Status ini diberikan apabila kurang dari 60 persen ulasan kritikus bersifat positif.

Sebaliknya, jika sebuah film memperoleh sedikitnya 60 persen ulasan positif, film tersebut akan memperoleh status Fresh, yang ditandai ikon tomat merah.

Di atas keduanya terdapat status Certified Fresh, yakni penghargaan khusus bagi film yang tidak hanya memperoleh skor minimal 75 persen, tetapi juga memenuhi sejumlah persyaratan lain. Film harus memiliki jumlah ulasan minimum sesuai skala perilisannya, sedikitnya lima ulasan berasal dari kelompok Top Critics, serta mampu mempertahankan skor di atas ambang batas selama periode evaluasi. Status ini bahkan dapat dicabut apabila skor Tomatometer turun setelah semakin banyak ulasan masuk.

Sementara itu, film yang belum memiliki ulasan yang cukup akan diberi status No Score Yet atau belum cukup data, ditandai dengan ikon tomat berwarna abu-abu.

Menariknya, Rotten Tomatoes kini tidak lagi menerapkan jumlah ulasan minimum yang sama untuk semua film. Ambang batas tersebut disesuaikan dengan proyeksi pendapatan box office domestik. Film dengan proyeksi pendapatan lebih kecil membutuhkan lebih sedikit ulasan untuk memunculkan skor, sedangkan film blockbuster dengan potensi pendapatan tinggi harus mengumpulkan lebih banyak ulasan sebelum Tomatometer ditampilkan kepada publik.

Tomatometer dan Popcornmeter, Apa Bedanya?

Selain Tomatometer yang mewakili suara para kritikus profesional, Rotten Tomatoes juga memiliki Audience Score, yang kini dikenal sebagai Popcornmeter.

Berbeda dengan Tomatometer, Popcornmeter dihitung berdasarkan penilaian penonton umum yang telah memberikan ulasan setelah menonton film. Ikonnya pun berbeda, menggunakan gambar ember popcorn, bukan tomat.

Dalam beberapa kesempatan, skor penonton ini sempat menuai kontroversi karena rentan terhadap praktik review bombing, yaitu upaya sekelompok orang memberikan penilaian ekstrem—baik sangat tinggi maupun sangat rendah—untuk memengaruhi persepsi publik terhadap sebuah film. Untuk mengurangi praktik tersebut, Rotten Tomatoes kemudian memperketat sistem verifikasi penonton pada sejumlah film.

Menjadi Acuan Industri Perfilman

Sejak pertama kali diluncurkan pada 1998, Rotten Tomatoes berkembang menjadi salah satu situs agregator ulasan film terbesar di dunia. Skor yang ditampilkan bukan hanya dijadikan referensi oleh penonton, tetapi juga kerap digunakan dalam materi promosi resmi film, layanan streaming, hingga berbagai platform digital lainnya.

Meski demikian, Rotten Tomatoes tidak pernah mengklaim Tomatometer sebagai ukuran mutlak kualitas sebuah film. Skor tersebut hanya menunjukkan seberapa banyak kritikus yang memberikan ulasan positif, bukan seberapa besar mereka menyukai film tersebut.

Karena itu, banyak pengamat film menyarankan agar penonton tidak hanya terpaku pada persentase Tomatometer. Membaca isi ulasan, mempertimbangkan genre, mengenal gaya sutradara, hingga melihat selera pribadi tetap menjadi faktor penting sebelum memutuskan apakah sebuah film layak ditonton atau tidak.

Dengan kata lain, Rotten Tomatoes dapat menjadi titik awal dalam memilih tontonan, tetapi bukan penentu akhir apakah sebuah film akan sesuai dengan selera setiap penonton.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
Rotten Tomatoes Tomatometer Skor film Film Hollywood malang