Bagaimana The Odyssey Bergeser dari Puisi Homer Menjadi Pola Cerita Naratif dalam Film?

Aldila Kyanna • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 17:22 WIB
Bagaimana The Odyssey Bergeser dari Puisi Homer Menjadi Pola Cerita Naratif dalam Film? (Getty Images dan Letterboxd)
Bagaimana The Odyssey Bergeser dari Puisi Homer Menjadi Pola Cerita Naratif dalam Film? (Getty Images, Letterboxd)

RADAR MALANG – Tak sedikit orang mengenal The Odyssey sebagai puisi epik karya Homer tentang perjalanan panjang Odysseus pulang ke Ithaca setelah Perang Troya. Namun seiring waktu, makna odyssey mengalami perkembangan yang jauh melampaui karya sastra tersebut.

Kini, odyssey bukan hanya berarti perjalanan yang panjang dan penuh tantangan, tetapi juga menjadi istilah untuk menggambarkan pola cerita yang sering muncul dalam film-film modern. Bahkan, sebuah film bisa disebut tipikal film "odyssey" meski tidak mengambil latar Yunani kuno.

Berawal dari Judul Puisi Karya Homer

Pada awalnya, The Odyssey hanyalah nama sebuah puisi epik karya Homer yang diperkirakan ditulis sekitar abad ke-8 hingga ke-7 SM. Kisah ini mengikuti perjalanan Odysseus yang membutuhkan waktu 10 tahun untuk kembali ke rumah setelah Perang Troya.

Selama berabad-abad, kata Odyssey hanya merujuk pada karya sastra tersebut, sebagai kata benda khusus (proper noun), bukan kata yang digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Berubah Menjadi Kiasan untuk Perjalanan Panjang

Perubahan makna mulai terjadi pada abad ke-19. Berdasarkan laporan CNN berjudul "What makes a journey an 'odyssey' anyway?" oleh Harmeet Kaur, salah satu penggunaan awal kata odyssey sebagai kiasan muncul dalam novel Kidnapped (1886) karya Robert Louis Stevenson.

Dalam novel tersebut, seorang tokoh menyebut perjalanan panjang dan melelahkan yang dialami tokoh utama sebagai "a great odyssey". Sejak saat itu, kata odyssey mulai digunakan untuk menggambarkan perjalanan yang panjang, berliku, dan penuh rintangan, baik secara fisik maupun emosional.

Profesor sastra Yunani di Harvard University, David Elmer, menjelaskan bahwa inti makna odyssey modern bukan lagi terletak pada siapa yang melakukan perjalanan, melainkan pada karakteristik perjalanannya yang panjang dan dipenuhi berbagai tantangan.

Baca Juga: Bekal Sebelum Menonton The Odyssey, Kenali Cerita, Karakter, dan Fakta Menariknya

Kini Menjadi Pola Cerita di Dunia Perfilman

Sejumlah kritikus dan penulis film turut mengamati bagaimana pola cerita "Odyssey" terus muncul kembali di layar lebar, tanpa harus mengadaptasi kisah Homer secara langsung. Yang terpenting, pola ceritanya masih mengikuti struktur serupa: tokoh yang terusik dari kehidupan normalnya, menghadapi berbagai cobaan dan godaan, lalu mengalami perubahan sebelum akhirnya menemukan jalan pulang.

Banyak Film yang Ternyata Memiliki "Odyssey-Coded"

Salah satu contohnya adalah The SpongeBob SquarePants Movie (2004). Banyak kritikus dan penggemar melihat kemiripan yang kuat antara film ini dengan The Odyssey. Perjalanan SpongeBob dan Patrick meninggalkan Bikini Bottom untuk menjalankan sebuah misi mengingatkan pada perjalanan Odysseus bersama kru setianya. Sejumlah karakter dan rintangan yang mereka hadapi juga memiliki kemiripan dengan epos karya Homer, seperti King Neptune yang mengingatkan pada Poseidon, Princess Mindy yang berperan sebagai sosok penuntun layaknya Athena, serta penyelam di Shell City yang menjadi versi modern dari Cyclops.

Salah satu contoh lain adalah After Hours (1985) karya Martin Scorsese. Film ini menunjukkan bahwa sebuah odyssey tidak selalu berupa perjalanan panjang selama bertahun-tahun. Hanya dalam satu malam, seorang pekerja kantoran harus menghadapi serangkaian kejadian tak terduga saat berusaha pulang ke rumah. Scorsese menggantikan monster-monster mitologi dengan orang-orang bertingkah aneh dan berbagai situasi absurd. Setiap kali tokoh utama merasa sudah hampir berhasil pulang, selalu muncul rintangan baru, mulai dari kehilangan uang, bertemu orang-orang yang mengancam, hingga terjebak di balik pintu-pintu yang terkunci. Perjalanan sederhana itu pun berubah menjadi petualangan yang penuh tantangan.

Sutradara Christopher Nolan sendiri pernah menyebut The Odyssey sebagai "ur-text" karyanya, dalam wawancara dengan The New York Times menjelang perilisan film adaptasinya pada 2026. "It's in everything I've done before," ujarnya.

Mengapa Pola Ini Terus Digunakan?

Kritikus budaya Eric Deggans, dalam tulisannya di Substack pribadinya "'The Odyssey' and the history of storytelling", menilai The Odyssey tetap relevan karena ceritanya terus diinterpretasikan ulang, bukan sekadar diulang.

Mengutip penerjemah Daniel Mendelsohn, Deggans menjelaskan bahwa jejak The Odyssey dapat ditemukan dalam berbagai karya populer, mulai dari The Wizard of Oz, Finding Nemo, Alice in Wonderland, Star Trek, Pride and Prejudice, Harry Potter, hingga Game of Thrones.

Kesamaan karya-karya tersebut bukan pada latarnya, melainkan pada struktur cerita: tokoh meninggalkan zona nyaman, menghadapi berbagai ujian, tergoda untuk menyerah atau mengambil jalan lain, kemudian kembali sebagai pribadi yang telah berubah.

Karena itulah, odyssey kini tidak lagi sekadar nama sebuah puisi atau perjalanan panjang. Di dunia perfilman, istilah ini telah berkembang menjadi sebuah "kode" atau pola naratif yang dapat diterapkan dalam berbagai genre, latar, dan zaman tanpa kehilangan makna utamanya.

Baca Juga: Christopher Nolan Ungkap Alasan Pilih Travis Scott sebagai Phemius di The Odyssey

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
adaptasi film Odyssey-Coded homer The Odyssey christopher nolan