Sebelum Tenxi dan Ryo Terkenal, Mereka Bertemu di Sini: Napak Tilas Lima Tahun Saint House

Hanif Pratama • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 16:50 WIB
dddd
Kolase foto Tenxi, logo Saint House, dan Ryo. Saint House menjadi salah satu ruang kolaborasi yang mempertemukan sejumlah musisi independen, termasuk Tenxi dan Ryo, sebelum nama mereka dikenal lebih luas. 

MALANG, RADAR MALANG – Di tengah ramainya skena musik indie dan underground Indonesia, ada satu nama yang mungkin jarang disebut di panggung, tapi diam-diam berperan besar di baliknya, Saint House. Komunitas ini bukan label besar dengan gedung kantor atau tim A&R yang mentereng. Awalnya hanya sekumpulan orang yang berdiskusi online, terinspirasi dari semangat kolektif ala budaya DIY (do it yourself) di dunia musik alternatif. Namun dari ruang digital itulah, nama-nama seperti Tenxi dan Ryo pernah singgah sebelum dikenal luas seperti sekarang.

Berawal dari Ruang Diskusi hingga Menjadi Titik Temu Musisi

Saint House lahir pada 19 April 2021, digagas oleh salah seorang pendiri Ajixxx bersama lingkaran kecil pencinta musik yang ingin membangun ruang bagi karya-karya musisi Indonesia yang belum banyak dikenal, baik secara online maupun offline. Idenya sederhana namun ambisius, menciptakan "rumah" digital yang mempromosikan dan mempublikasikan karya musisi lintas genre di ranah underground.

Ajixxx sendiri bukan sekadar penggagas dan pengelola komunitas dari balik layar. Ia sendiri juga aktif bermusik. Namanya tercatat sebagai salah satu artis pengisi suara dalam single Us bersama RYO dan whoamidesu di bawah bendera Saint House yang dirilis pada 2023. Posisi ganda ini menjadi salah satu alasan mengapa ia memahami kebutuhan para musisi yang bergabung di dalam komunitas tersebut. Ia bukan hanya pengelola, tetapi juga bagian dari ekosistem yang dibangunnya.

"Visi awalnya adalah membangun rumah untuk mempromosikan dan mempublikasikan karya-karya dari musisi Indonesia yang belum dikenal secara online maupun offline," ujar Ajixxx mengenang awal berdirinya Saint House.

Dalam lima tahun perjalanannya, Saint House berkembang dari forum diskusi menjadi komunitas digital yang aktif mengkurasi karya, membangun kanal media sosial, dan memproduksi konten berupa album kolaboratif serta berbagai kegiatan yang sebagian besar masih digelar secara online.

Perkembangan itu juga membuat Saint House menjadi ruang pertemuan bagi banyak musisi. Sekitar 2022 hingga awal 2023, komunitas ini menjadi tempat bertemunya sejumlah nama yang kini mulai dikenal di skena musik Indonesia, termasuk Tenxi dan Ryo.

Menariknya, jalan masing-masing musisi menuju Saint House berbeda-beda. Tenxi sempat bekerja di Bali dan bertemu komunitas ini secara langsung. Sementara itu, Ryo mengenal Saint House lewat jalur online setelah karyanya dibagikan dan diperkenalkan melalui platform komunitas.

"Sainthouse jadi tempat diskusi dan pertemuan untuk banyak sekali artis yang sekarang sudah terkenal," kata Ajixxx.

Ia menambahkan bahwa komunitas ini setidaknya punya andil dalam menambah jumlah pendengar dan basis penggemar musisi-musisi yang bergabung di dalamnya, meski ia tidak mengklaim hal tersebut sebagai jasa tunggal Saint House.

Konsisten Berkarya dan Menatap Langkah Berikutnya

Meski terkesan santai, Saint House memiliki sistem kerja yang cukup terstruktur. Diskusi dan pertemuan rutin dilakukan secara daring, sementara pertemuan tatap muka berlangsung sekitar satu hingga dua kali dalam setahun. Dari pertemuan itulah sejumlah musisi dipilih, baik oleh komunitas maupun mitra, untuk berkolaborasi dalam proyek produksi bersama yang umumnya berbentuk album.

Salah satu hasilnya adalah proyek kolaboratif tahunan Saintimental, yang menghadirkan puluhan musisi lintas genre dalam satu album kompilasi. Bagi musisi yang bernaung di bawah Saint House, ada satu aturan tak tertulis, yakni setiap kolaborasi harus menghasilkan karya.

Setiap tahunnya, komunitas ini rata-rata memproduksi satu hingga dua album kolaborasi, sebuah konsistensi yang terus dipertahankan sejak awal berdiri.

Menurut Ajixxx, salah satu hal yang membedakan Saint House dari komunitas musik underground lainnya adalah keterbukaannya.

"Sainthouse masih bebas dalam memberikan wadah ke berbagai musisi kolektif untuk bisa dinaungi," ujarnya.

Cakupannya pun luas, merangkul musisi dari berbagai genre dalam konteks underground tanpa batasan aliran tertentu. Ia juga menilai Saint House memiliki karakter yang berbeda dibanding komunitas lain karena lebih berfokus menjadi ruang kolaborasi bagi para musisi.

Setelah lima tahun berkembang di ruang digital, Saint House kini mulai menyiapkan langkah berikutnya, yakni menggelar gigs offline dan tur ke berbagai kota di Indonesia.

Rencana tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Pada akhir 2022, Saint House pernah menggelar sebuah gig berskala kecil di Bandung sebagai pengalaman pertama membawa komunitas digital ke ruang fisik.

Jika rencana tersebut terealisasi, langkah itu akan menjadi babak baru bagi Saint House dalam memperluas ruang pertemuan antara musisi dan pendengarnya, yang selama ini lebih banyak terjalin melalui ruang digital.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Radar Malang
Saint House Tenxi Ryo malang