RADAR MALANG- Shalat sunat yang bagaimanakah yang paling dicintai oleh Allah? Apakah “rakus” mengerjakan salat sunat –apa saja jenis salat sunat dikerjakan—adalah yang terbaik? Belum tentu.
Menurut Sa’id bin Ali bin Wahf al Qahthani dalam kitabnya Shalatul Mu’min, justru yang “biasa-biasa” sajalah yang lebih dicintai Allah. Maksudnya, salat sunat yang dikerjakan secara kontinyu dan tidak memaksakan diri. Meskipun sedikit, jika kontinyu dikerjakan, itu adalah yang terbaik.
Baca Juga: Ngaji Jumat: Shalat Rawatib, 10 atau 12 Rakaat Sehari-Semalam? Ganjarannya Rumah di Surga
Hal ini didasarkan pada hadis dari Aisyah yang mengatakan bahwa pernah seorang wanita dari Bani As’ad duduk bersamanya. Ketika Rasulullah SAW masuk ke ruangannya, beliau bertanya: “Siapa wanita ini?”
Kemudian Aisyah menjawab, “Dia adalah seorang wanita yang tidak pernah tidur malam dan sudah banyak yang membicarakan perihal salat malamnya (karena kagum kepadanya).”
Mendengar hal itu, Rasulullah berkomentar, “Wah..wah.. Hendaklah kalian mengerjakan ibadah sesuai dengan kemampuan yang kalian miliki. Sebab, Allah tidak pernah merasa bosan hingga kalian sendiri yang bosan.” (Ketaatan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara kontinyu). Demikian hadis riwayat Bukhari-Muslim.
Menurut Sa’id bin Ali bin Wahf al Qahthani, yang dimaksud dengan “bosan” pada hadis di atas adalah gambaran dari sebagian sifat Allah yang di antara maksudnya ialah bahwa Allah tidak akan pernah berhenti memberi pahala kecuali bila seseorang sudah tidak lagi melakukannya (amalan yang mendatangkan pahalan itu, ed.).
Penjelasan itu didapat Sa’id bin Ali dari Syaikh bin Baz atau Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, ulama besar dan mufti agung Kerajaan Arab Saudi abad ke-20.
Dalam riwayat lain, Aisyah mengatakan bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “…dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara kontinyu meskipun sedikit.”
Dasar lain berasal dari hadis yang diriwayatkan Anas. Ia mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah masuk masjid dan melihat ada tali yang dikat dan dibentangkan di antara dua tiang. Beliau lalu bertanya, “Tali apa ini?”
Para sahabat menjawab, “Tali ini milik Zainab yang digunakan untuk menahan tubuhnya saat mengerjakan salat sunat apabila dia sudah merasa Lelah.”
Rasulullah pun bersabda, “Jangan begitu. Lepaskan tali itu! Hendaklah seseorang dari kalian mengerjakan salat sunat sesuai dengan kemampuannya. Jika dia sudah merasa capai, hendaklah beristirahat saja.” Demikian hadis riwayat Bukhari-Muslim.
Baca Juga: Ngaji Jumat: Shalat Qudum, Shalat Sunat yang Jarang Orang Tahu, Dikerjakan Usai Bepergian
Masih ada beberapa hadis lain yang menguatkan hal itu. Bahwa pada intinya, dalam hal salat sunat, hendaknya kita mengerjakannya secara kontinyu walaupun sedikit. Yang biasa-biasa saja dan jangan njelimet(mempersulit diri) apalagi sampai memberatkan diri. Itulah yang paling disukai oleh Allah SWT.
Jadi, Anda pilih yang mana? Yang sedikit tapi kontinyu atau yang banyak sampai kelelahan tapi potensial bikin bosan?
Editor : Tauhid Wijaya