Begini Cara 20 Komunikasi Layang-Layang di Malang Melawan Dominasi Gawai  

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 11:29 WIB
Festival layangan hias menyambut Hari Kemerdekaan RI (Darmono/Radar Malang)
Festival layangan hias menyambut Hari Kemerdekaan RI (Darmono/Radar Malang)

 

MALANG KOTA – Komunitas layangan hias di Malang mempunyai cara tersendiri untuk melawan dominasi gawai. Salah satunya dengan menggelar festival layangan hias di Lapangan Gadang, Kecamatan Sukun, kemarin (9/8).

Acara bertajuk Malang Solidarity Sky Fest (MSSF) 2026 itu diikuti 70 tim dari berbagai komunitas. Agenda yang berlangsung dua hari, 8-9 Agustus 2026 juga digelar untuk menyambut peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 RI.

Ketua Perkumpulan Pelayang Seluruh Indonesia (Pelangi) Kota Malang Mohammad Saiful Hamzah mengatakan, 70 tim berasal dari 20 komunitas. Mereka datang dari beberapa kecamatan di Bumi Arema, seperti Gondanglegi, Singosari, Kota Malang, dan Batu.

”Keberadaan permainan layang-layang menjadi wadah kegiatan positif bagi masyarakat, khususnya generasi muda," ujar Saiful di sela kegiatan.

Ada dua kelas yang dipertandingkan dalam festival ini. Yakni kelas pertandingan atau combat dan kelas layangan hias. Tidak ada syarat tertentu pada dua kategori tersebut.

”Tahun ini masih kelas bebas. Tetapi kami diminta membuat kelas khusus untuk U-12 tahun depan,” ucapnya.

Selain ajang kompetisi, MSSF 2026 menjadi momentum untuk mendorong regenerasi pegiat layang-layang di Malang Raya. Sebab, aktivitas tersebut telah berkembang selama puluhan tahun dan melahirkan banyak komunitas. Dalam beberapa tahun terakhir keberadaan komunitas layang-layang juga mendapat perhatian lebih besar.

Dia berharap perkembangan tersebut dapat terus berlanjut sehingga layang-layang tidak hanya dipandang sebagai permainan. Tetapi juga dilestarikan sebagai bagian dari budaya masyarakat.

”Layangan ini sudah menjadi budaya. Sayang kalau sampai hilang, karena di sini banyak pelayang,” kata Saiful.

Menurut Saiful, sejumlah pelayang dari Malang Raya juga aktif mengikuti perlombaan di luar daerah. Termasuk di Jakarta dan Bandung. Bahkan, beberapa di antaranya meraih prestasi dalam berbagai kompetisi. Dengan prestasi itu, dia berharap dukungan pemerintah terhadap para pegiat layang-layang semakin ditingkatkan.

Di sisi lain bagi komunitas, regenerasi menjadi salah satu perhatian utama. Saiful menilai layang-layang bisa menjadi salah satu aktivitas positif bagi anak-anak. Terutama di tengah tingginya penggunaan gawai.

"Daripada anak bermain HP terus, mending layangan yang lebih positif," jelasnya.

Ketua Panitia MSSF 2026 Deny Rahmawan mengatakan, layang-layang masih memiliki tempat di masyarakat. Sehingga pihaknya mengajak kaum muda lebih mengenal dan mengetahui layangan sebagai budaya bangsa.

"Kami berharap selain menghadirkan hiburan. Bisa memberikan edukasi dan peluang berinteraksi secara positif," tuturnya.(adk/dan)

Editor : Mahmudan
festival layang-layang Malang Festival Layang-layang