Nama 6Sentani belakangan kerap muncul di linimasa media sosial. Musiknya yang penuh hentakan digunakan dalam sejumlah video pendek dengan tagar seperti #jjtrap dan #undergroundrap. Namun, popularitas tersebut bukan datang secara tiba-tiba. Ia telah bereksperimen dengan musik sejak masih duduk di bangku SMP.
Dari Eksperimen hingga Menemukan Karakter Musik
6Sentani membangun musiknya secara mandiri sejak awal. Ia memperkenalkan diri sebagai musisi sekaligus produser asal Malang yang banyak belajar melalui proses eksplorasi, bukan dari lingkungan industri musik profesional.
Sejumlah rilisan seperti Only Siji dan Mbak Billie kemudian menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Mbak Billie bahkan ikut mendapatkan perhatian setelah digunakan dalam berbagai konten video pendek di TikTok.
Di balik karya-karyanya, terdapat perpaduan dua karakter musik yang cukup berbeda. 6Sentani menggabungkan energi musik jedag-jedug yang lekat dengan budaya sound system di Jawa Timur dengan hip-hop, terutama trap yang berkembang dari kultur urban Amerika.
Perpaduan tersebut menurutnya sudah muncul sejak sebelum menggunakan nama 6Sentani. Eksplorasi yang dilakukan secara mandiri akhirnya membentuk karakter musik yang kini menjadi identitasnya.
Label Musik Horeg Justru Dirangkul
Sebutan musik horeg tidak lahir dari konsep awal 6Sentani. Label tersebut justru muncul dari pendengar yang menangkap karakter musiknya. Alih-alih menolak, dia memilih menjadikannya bagian dari identitas karya.
“Banyak yang bilang musikku tuh kayak musik horeg. Awalnya itu bukan konsep dari aku, tapi karena banyak yang bilang gitu, ya sudah aku embrace saja,” jelas 6Sentani.
Identitas tersebut kemudian dibawa ke aspek visual. Sampul rilisan 6Sentani menggunakan tipografi bergaya racing dengan dominasi warna hijau. Konsep itu dipilih untuk memperkuat kesan Jawa Timur dalam karya-karyanya.
“Makanya cover albumku aku bikin kayak font balapan, warna hijau, biar makin kerasa Jatim pride-nya,” imbuhnya.
Pilihan tersebut membuat musik dan visual 6Sentani memiliki benang merah yang sama. Ia tidak hanya mengandalkan suara, tetapi juga membangun identitas yang dekat dengan kultur tempat dirinya tumbuh.
Beat dan Atmosfer Jadi Kekuatan Utama
Dalam proses produksi, 6Sentani lebih banyak menempatkan kekuatan pada beat, tekstur suara, dan atmosfer. Lirik tidak selalu menjadi bagian yang paling kompleks dalam karya-karyanya.
Ia mengaku lebih senang membuat lirik secara spontan sesuai dengan gagasan yang sedang ada di pikirannya. Pendekatan tersebut kemudian dipadukan dengan produksi musik yang menonjolkan energi dan karakter suara.
Hasilnya adalah karya yang tidak semata-mata mengandalkan permainan kata. Dentuman beat dan atmosfer justru menjadi elemen penting untuk membangun pengalaman mendengarkan.
Album Only Siji Ditargetkan Rilis Tahun Ini
Setelah sejumlah single diperkenalkan, 6Sentani kini menyiapkan album penuh bertajuk Only Siji. Proyek tersebut ditargetkan rampung dan dirilis tahun ini.
Meski memiliki target tersebut, dia tidak ingin terlalu kaku menentukan arah karier. Proses bermusik tetap dijalani secara mengalir atau work in a flow.
Di luar urusan rilisan, 6Sentani juga ingin pengalamannya mendorong orang lain untuk berani memulai bermusik. Menurut dia, proses kreatif tidak harus diawali peralatan mahal atau pendidikan musik formal.
Laptop maupun HP dapat menjadi perangkat awal untuk bereksperimen dan menemukan karakter suara sendiri.
Dari eksperimen tersebut, 6Sentani perlahan menemukan ruang di tengah skena musik Malang. Perpaduan trap dan musik jedag-jedug menjadi fondasi suara, sementara unsur visual dan kultur Jawa Timur memperkuat identitasnya.
Album Only Siji yang ditargetkan hadir tahun ini menjadi langkah berikutnya. Perjalanan 6Sentani masih panjang, tetapi identitas yang tumbuh secara organik dari eksperimen dan respons pendengar telah memberinya pijakan di skena musik underground.
Editor : Aditya NovrianSumber : Radar Malang