Bagaimana Circe di The Odyssey Menjadi Simbol Perlawanan Perempuan yang Berbeda dari Versi Homer?

Aldila Kyanna • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28 WIB
Samantha Morton dalam The Odyssey (X/NolanAnalyst)
Samantha Morton dalam The Odyssey (X/NolanAnalyst)

RADAR MALANG –  Karakter Circe dalam adaptasi The Odyssey karya Christopher Nolan menghadirkan interpretasi yang cukup berbeda dari penggambaran tokoh tersebut dalam karya epik Homer. Perubahan itu tidak hanya terlihat dari penampilan, tetapi juga dari fungsi dan motivasi karakter.

Dalam terjemahan The Odyssey karya Emily Wilson (2017), Circe merupakan dewi abadi yang digambarkan cantik dan memikat. Ia tinggal di kediaman megah bersama para nimfa yang membantunya menyambut para pendatang. Ketika Odysseus tiba di pulaunya, Circe tidak hanya menjadi sosok yang mengubah anak buahnya menjadi babi, tetapi kemudian menjadi salah satu tokoh yang membantu perjalanan sang pahlawan.

Circe Nolan Lebih Gelap dan Penuh Amarah

Circe yang diperankan Samantha Morton hadir sebagai sosok penyihir yang lusuh, penuh amarah, dan jauh dari gambaran dalam puisi Homer. Rumah Circe juga tidak lagi digambarkan sebagai kediaman megah yang dipenuhi para nimfa. Dalam film, ia tinggal seorang diri di tempat yang gelap dan kumuh. Ketika para prajurit Odysseus datang, mereka justru menghadapi sosok perempuan yang tampak seperti penyihir dalam dongeng. Adegan transformasi mereka menjadi babi pun dibuat lebih mengerikan.

Ia bukan lagi sosok yang kemudian menjadi kekasih dan sekutu Odysseus, melainkan salah satu rintangan yang harus dilewati dalam perjalanan sang tokoh utama. Bahkan, hubungan romantis antara Circe dan Odysseus yang cukup penting dalam versi Homer sama sekali tidak menjadi bagian utama dalam adaptasi Nolan.

Baca Juga: Bagaimana The Odyssey Bergeser dari Puisi Homer Menjadi Pola Cerita Naratif dalam Film?

Circe sebagai Simbol Perlawanan Perempuan

Bailey Sincox, dosen sastra perbandingan di Binghamton University yang menulis ulasan untuk The Conversation, melihat alasan yang lebih kompleks di balik perubahan tersebut. Dalam film, Circe menolak anggapan bahwa dirinya mengubah para lelaki itu menjadi sesuatu yang bukan diri mereka. Sebaliknya, wujud babi justru dianggap sebagai gambaran dari siapa mereka sebenarnya.

Argumen tersebut memiliki dasar dari perilaku para prajurit sepanjang perjalanan yang menunjukkan bahwa anak buah Odysseus berulang kali melanggar xenia, yakni prinsip keramahtamahan yang memiliki posisi penting dalam budaya Yunani kuno. Mereka membakar Troy, membutakan Cyclops, serta melakukan penjarahan terhadap wilayah lain dalam perjalanan mereka.

Dengan demikian, transformasi menjadi babi dapat dibaca bukan sekadar sebagai hukuman dari seorang penyihir yang marah. Wujud tersebut menjadi semacam cermin bagi perilaku para lelaki yang selama ini menggunakan kekerasan dan mengambil apa yang mereka inginkan. Odysseus sendiri pada akhirnya menyadari bahwa dirinya juga memiliki sifat yang sama. Ia mengakui bahwa dirinya telah mengambil terlalu banyak dari orang lain, melanggar tempat yang seharusnya dihormati, dan menodai hal-hal yang dianggap suci.

Bailey Sincox menghubungkan Circe versi Nolan dengan karya-karya yang sebelumnya telah memberikan perspektif berbeda terhadap tokoh tersebut. Salah satunya adalah puisi “Circe” karya Carol Ann Duffy dalam The World's Wife (1999) dan novel The Penelopiad (2005) karya Margaret Atwood. Dalam tradisi reinterpretasi semacam ini, perempuan dalam mitologi tidak lagi hanya ditempatkan sebagai karakter pendamping dalam perjalanan laki-laki. Mereka mendapatkan kesempatan untuk berbicara, menjelaskan pengalaman, serta mempertanyakan nilai-nilai yang selama ini dianggap normal.

Baca Juga: Alasan The Odyssey Terasa Dekat dengan Anak Rantau dan Makna Nostos di Baliknya

Samantha Morton Melihat Circe sebagai Penyintas

Dilansir dari Yahoo Entertainment, Morton menggambarkan Circe sebagai seorang penyintas dan sosok yang berusaha melindungi dirinya dari kekerasan. Ia juga mengatakan bahwa latar belakang keluarganya yang berkaitan dengan dunia militer serta pengalaman kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan keluarganya ikut memengaruhi cara ia memahami karakter tersebut. 

Tak hanya itu, adegan mengerikan yang diperankan Morton dengan mengandalkan efek praktikal tersebut juga mendapat respons tak biasa dari kru. Mereka bahkan memberikan tepuk tangan setelah proses syuting selesai. Nolan menyebut momen seperti itu jarang terjadi. Menurutnya, terakhir kali kru memberikan reaksi serupa adalah ketika menyaksikan penampilan Heath Ledger sebagai Joker dalam The Dark Knight. 

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Diolah dari beberapa sumber
Circe Samantha Morton homer feminisme The Odyssey