MALANG, RADAR MALANG - Pernahkah Anda merasa senang ketika akhirnya menemukan lagu baru pada suatu hari secara tiba-tiba? Sebuah lagu baru pada telinga Anda dan dengan sopannya menari-nari dari telinga kanan ke kiri. Sebuah lagu yang sangat cocok pada suasana hati, berangkat berkegiatan, saat mengerjakan pekerjaan, perjalanan pulang, atau hanya berdiam diri di atas kasur yang nyaman.
Tetapi pernahkah kita bertanya bagaimana sebuah lagu bisa tiba pada rekomendasi kita dan melayang indah pada telinga kita?
Zaman dulu mungkin orang-orang menemukan lagu dari radio. Beli kaset bajakan di pasar dari mas-mas gondrong yang ramah. Mengunduhnya dari situs MP3 dari konter HP terdekat. Atau dikenalkan oleh teman yang memiliki selera musik bagus.
Kalau di zaman sekarang, mungkin kita mengenalnya dari video TikTok yang berdurasi 30 detik. Atau mungkin tak pernah kita benar-benar cari sebelumnya, muncul dari rekomendasi platform musik yang tiba-tiba menyodorkannya ke telinga kita.
Baca Juga: Fenomena Musik Jedag Jedug: Dari Tren TikTok hingga Budaya Musik Digital
Satu lagu selesai diputar. Lagu berikutnya terdengar cocok. Kemudian muncul lagu lain dari musisi yang bahkan sebelumnya tidak pernah kita dengar. Dalam beberapa menit, sebuah platform seperti sudah memahami kira-kira musik seperti apa yang kita sukai.
Di titik itu, pertanyaannya mulai muncul: apakah kita benar-benar menemukan musik baru, atau musik itu sebenarnya sudah dipilih untuk kita?
Cara kita menemukan musik sudah sangat berbeda dengan zaman dulu. Kebiasaan kita dalam mendengarkan musik sudah diproses oleh algoritma. Sebuah platform musik atau media sosial mempelajari kebiasaan penggunanya melalui berbagai aktivitas. Lagu yang sering diputar, lagu yang dilewati, artis yang berulang kali didengarkan, hingga pola konsumsi pengguna lain dapat menjadi bagian dari sistem rekomendasi. Hasilnya menjadi sebuah pengalaman yang personal oleh penggunanya.
Bila kita suka mendengarkan lagu-lagunya Jason Ranti, rekomendasi musisi dan lagu selanjutnya akan tidak jauh-jauh dari spektrum genre musik Indonesia folk. Dari satu artis, algoritma membawa kita untuk berkenalan dengan musisi dan lagu yang baru. Membangun jalur musik yang terasa seperti perjalanan pribadi. Masalahnya, jalur tersebut tidak sepenuhnya terbentuk secara kebetulan. Ada sistem yang terus-menerus memperkirakan apa yang kemungkinan besar akan kita sukai.
Di satu sisi, ini menjadi hal yang baik untuk para pendengar dan untuk para musisi. Kita sebagai pendengar tidak perlu repot-repot untuk mencari secara manual musik apa yang sekiranya kita suka. Dan musisi-musisi kecil yang tidak punya panggung akhirnya memiliki kesempatan untuk sampai dan berkenalan dengan kita. Karena algoritma sudah membuatkan jalur-jalur khusus yang mempertemukan pendengar dengan musisi.
Tetapi, hal ini membuat kita hanya berkeliling di satu wilayah yang sama. Semakin algoritma memahami pola para pendengar. Semakin sering algoritma akan memberikan rekomendasi lagu-lagu yang memungkinkan akan kita sukai. Kita memang mendapatkan musik baru, tetapi belum tentu mendapatkan pengalaman mendengarkan yang benar-benar baru. Algoritma memiliki kecenderungan untuk memperluas selera kita dari titik yang sudah kita miliki, bukan membawa kita keluar sepenuhnya dari titik tersebut.
Pada akhirnya musik-musik yang direkomendasikan tetaplah selera kita. Algoritma memang tidak bisa memaksa kita menyukai sebuah lagu. Kita tetap bisa memilih untuk mendengarkan, melewati, atau menyimpan lagu tersebut.
Baca Juga: Album “Cemen” yang Mengubah Skena Musik Hip-hop: 808s & Heartbreak
Tapi, coba pikirkan lagi. Dari jutaan lagu yang tersedia, kita hanya mendengar sebagian kecil. Sisanya disaring oleh platform dan algoritma sebelum akhirnya muncul di hadapan kita. Semakin algoritma mengenal kebiasaan kita, semakin mudah pula ia menentukan musik apa yang mungkin kita sukai.
Jadi, ketika kita merasa menemukan sebuah lagu baru, apakah kita benar-benar menemukannya sendiri? Atau jangan-jangan, algoritma sudah lebih dulu menemukannya untuk kita?
Editor : Aditya NovrianSumber : refactory.id, getradius.id, CXO Media