RADAR MALANG- Bangun tengah malam untuk menjalankan shalat sunat sangat dianjurkan untuk setiap muslim. Ini menjadi waktu dan sarana yang efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah. Banyak ayat Al Qur’an maupun hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan tentang keutamaannya.
Lalu, bagaimana Rasulullah sendiri menjalankannya? Apakah sepanjang malam beliau selalu dihabiskan untuk beribadah?
Imam Abu Hamid Al Ghazali (Imam Al Ghazali) dalam Ihya Ulumuddin membagi cara “menghidupkan malam” dengan beribadah itu ke dalam tujuh tingkatan.
1. Menggunakan seluruh malam untuk beribadah alias semalam suntuk. Ini adalah keadaan orang yang benar-benar kuat, yang pekerjaannya semata-mata hanya beribadah. Mereka merasakan kenikmatan luar biasa darinya. Siangnya pun cukup tidur seperlunya. Inilah yang merupakan amaliah 40 kaum tabi’in (orang yang masih menjumpai kehidupan para sahabat Nabi).
2. Hanya menggunakan separo malam.
3. Hanya sepertiga dari separo malam yang terakhir.
4. Hanya seperenam atau sepertlima malam yang terakhir.
5. Tidak punya patokan pasti seperti di atas. Yang penting, selalu berniat bangun malam untuk beribadah, di bagian malam yang mana pun.
6. Tidak punya patokan waktu. Asalkan saat bangun cukup untuk melakukan shalat sunat 2-4 rakaat saja.
7. Kalaupun pas berhalangan bangun untuk shalat malam, ia selalu bangun menjelang fajar, sebelum waktu Shubuh tiba. Tidak pernah sampai masuk shalat Shubuh baru bangun.
Baca Juga: Ngaji Jumat: Shalat Sunat Sambil Duduk di Atas Kursi Kendaraan Boleh, Bagaimana kalau Shalat Wajib?
Rasulullah sendiri, kata Al Ghazali –seperti dikutip Syaikh Muhammad Jamaluddin Al Qasimi Ad Dimasyqi dalam Mauidhatul Mu’min min Ihya Ulumiddin yang merupakan ringkasan kitab Ihya Ulumuddin, lepas dari tingkatan-tingkatan itu. Kadang-kadang beliau menggunakan separo malam, kadang-kadang sepertiganya.
Tak jarang juga beliau bangun untuk shalat di dua pertiga malam atau di seperenamnya. Tidak selalu sama setiap malam. Allah berfirman dalam QS Al Muzammil ayat 20 yang artinya: “Sesungguhya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (mengerjakan shalat malam) itu kurang dari dua pertiga malam. Ada juga separo malam dan sepertiganya).
Kata-kata “tsulutsayil laili”alias “kurang dari dua pertiga” dalam ayat itu menunjukkan seolah-olah separo atau separo seperenamnya.
Sementara, Aisyah berkata, “Rasulullah bangun apabila telah mendengar suara ayam jantan berkokok.” Keterangan ini menunjukkan bahwa Nabi SAW mengerjakan ibadah malam selama seperenam malam atau kurang sedikit dari itu.
Tentang keutamaan shalat malam, banyak ayat yang menjelaskan. Di antaranya Al Qur’an Surat As Sajdah ayat 16 yang artinya sebagai berikut:
“Mereka itu meninggalkan tempat tidurnya, menyeru kepada Tuhan mereka dengan perasaan takut dan penuh harapan dan suka membelanjakan sebagian dari rezeki yang Kami limpahkan itu untuk kebaikan.”
Atau Surat Az Zumar ayat 9 yang artinya sebagai berikut: “Adakah orang yang patuh menjalankan kewajibannya selama beberapa waktu pada malam hari sambil bersujud dan berdiri, memelihara dirinya terhadap hari akhirat dan mengharapkan kerahmatan Tuhannya itu (sama dengan orang yang durhaka kepada Allah)?”
Ada pula Surat Adz Dzariat ayat 17-19 dengan arti sebagai berikut: “Orang-orang yang bertakwa itu sedikit sekali tidurnya di waktu malam. Di waktu menjelang fajar pagi, mereka itu berdoa memohonkan pengampunan dan dari sebagian hartanya dijadikan hak yang diberikan kepada orang yang meminta dan yang kekurangan.”
Sedangkan dalam hadis yang diriwayatkan Adam bin Abu Iyas, Rasulullah bersabda yang artinya: “Dua rakaat yang dilakukan seorang hamba di tengah malam itu lebih baik daripada dunia beserta segala isinya.”
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya dari sebagian waktu malam ada suatu saat yang tiada menyamai kebaikannya bagi seorang muslim untuk memohonkan hal-hal yang baik kepada Allah, melainkan oleh Allah pasti akan dikabulkan. Demikian itu ada pada setiap malam.”
Lalu, di berapa bagian malam Anda biasa bangun untuk melaksanakan shalat? (*)
Editor : Tauhid Wijaya