Tarot di Kalangan Gen Z: Sekadar Hiburan atau Cara Mencari Jawaban?

Siti Aisyah • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 20:01 WIB
Fenomena tarot kembali ramai di bahas, terutama di media sosial. Sumber: unsplash.com
Fenomena tarot kembali ramai di bahas, terutama di media sosial. Sumber: unsplash.com

Malang, Radar Malang — Fenomena tarot kembali ramai dibahas, terutama melalui media sosial. Di era digital, tarot tidak lagi hanya dikaitkan dengan praktik mistis atau hal-hal menyeramkan. Kini, berbagai konten mengenai tarot dikemas dalam video singkat dan hadir di berbagai platform media sosial. Fenomena tersebut membuat banyak anak muda tertarik untuk melihat konten tarot, bahkan mencoba pembacaannya.

Baca Juga: Tak Hanya Tawarkan Jus Jumbo, Osk Tea Kini Hadirkan Sesi Baca Tarot di Tengah Aktivitas Nongkrong

Tarot merupakan media spiritual yang terdiri atas 78 kartu berisi gambar dan simbol yang kemudian dibacakan oleh pembaca tarot kepada orang yang ingin mengetahui maknanya. Pembacaan tarot biasanya dilakukan oleh Gen Z sebagai salah satu cara untuk mencari jawaban atas kegelisahan yang mereka rasakan, mulai dari tekanan hidup, ketidakpastian mengenai masa depan, hingga persoalan personal.

Menanggapi fenomena tersebut, Psikolog Klinis Universitas Airlangga (Unair) Dian Kartika Amelia menyampaikan bahwa tarot bukanlah sesuatu yang baru. Dari perspektif psikologi, Dian mengatakan bahwa ketertarikan terhadap tarot dapat menjadi salah satu cara yang dilakukan Gen Z ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan atau berada dalam kondisi tidak berdaya.

Baca Juga: Mengapa Gen Z Lebih Memilih Mediasi Lewat Aplikasi daripada ke Psikolog

“Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini. Jadi hal itu diharapkan dapat memberikan rasa tenang,” ucap Dian dilansir dari laman resmi  Unair.

Dian kemudian menjelaskan bahwa pembacaan tarot dapat memunculkan gambaran atau fantasi mengenai apa yang mungkin terjadi pada seseorang di masa depan. Hal tersebut dapat membantu mengurangi kecemasan dan menjadi salah satu coping mechanism bagi individu dalam menghadapi ketidakpastian.

Dampak dan Solusi

Dosen dari Fakultas Psikologi UNAIR itu juga menyampaikan terkait dampak dari penggunaan tarot. 

“Jika itu dijadikan sebagai pendorong evaluasi yang dapat membuat individu berkembang, tidak masalah. Tapi ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi warning pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat problem solving,” tuturnya. 

Dian memberikan tips untuk menghadapi stres secara mandiri. Yakni dengan belajar untuk mengelola stres seperti melakukan journaling, mengelola waktu, mengonsumsi makanan yang bergizi dan berolahraga secara rutin.

Dengan demikian, ketertarikan Gen Z terhadap tarot tidak selalu berkaitan dengan kepercayaan terhadap ramalan. Bagi sebagian orang, tarot juga dapat menjadi cara untuk memperoleh ketenangan atau melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : unair.ac.id, Kompas.com, Detik.com, tirto.id, tempo.co
Tarot Psikologi Gen Z Stres