Saat Tarot Jadi Penentu Pilihan, Kapan Hiburan Berubah Jadi Ketergantungan?

Siti Aisyah • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 22:00 WIB
Fenomena tarot di kalangan Gen Z. Sumber: unsplash.com
Fenomena tarot di kalangan Gen Z. Sumber: unsplash.com

Malang, Radar Malang — Di era digital, fenomena tarot kembali ramai dibahas di kalangan Gen Z. Tarot tidak lagi hanya dipandang sebagai sesuatu yang menyeramkan atau dikaitkan dengan hal mistis. Tarot merupakan media spiritual yang terdiri dari 78 kartu dengan gambar dan simbol tertentu yang memiliki beragam makna.

Tarot kini juga hadir melalui berbagai platform media sosial. Kondisi tersebut membuat tarot semakin mudah dijangkau oleh Gen Z yang tumbuh di tengah perkembangan internet. Di TikTok, misalnya, banyak pembaca tarot yang membuat video singkat berisi pembacaan dan penjelasan mengenai makna kartu tarot untuk menarik perhatian pengguna.

Baca Juga: Tarot di Kalangan Gen Z: Sekadar Hiburan atau Cara Mencari Jawaban?

Ketika merasa isi video tersebut sesuai dengan apa yang sedang dirasakan, sebagian Gen Z kemudian tertarik melakukan pembacaan tarot secara personal. Mereka bahkan rela mengeluarkan uang hingga ratusan ribu rupiah untuk menggunakan jasa tarot reader. Pertanyaan yang diajukan biasanya berkaitan dengan percintaan, karier, hingga berbagai persoalan yang sedang mengganggu pikiran.

Ketika Tarot Mulai Menjadi Penentu Pilihan

Menggunakan jasa tarot bukan menjadi masalah jika dilakukan sebatas hiburan atau sarana refleksi diri. Namun, persoalan dapat muncul ketika seseorang menjadikan tarot sebagai acuan setiap kali merasa khawatir terhadap sesuatu yang belum terjadi atau ketika hendak mengambil keputusan.

Psikolog Klinis Universitas Airlangga (Unair), Dian Kartika Amelia, menjelaskan bahwa tarot dapat menjadi sarana evaluasi selama hasilnya mendorong seseorang untuk berkembang. Namun, ketergantungan dapat menjadi masalah ketika seseorang terlalu mengandalkan pandangan yang ditawarkan tarot hingga menghambat kemampuan dalam menyelesaikan masalah.

Baca Juga: 3 Rekomendasi Game Gratis di Play Store untuk Hilangkan Stres, Cocok Dimainkan Saat Waktu Luang

“Jika itu dijadikan sebagai pendorong evaluasi yang justru membuat individu itu berkembang, tidak masalah. Tapi ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi warning pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat problem solving,” ucap Dian, dilansir dari laman resmi Unair.

Dian juga menyarankan beberapa cara untuk menghadapi stres secara mandiri, seperti melakukan journaling, mengelola waktu, mengonsumsi makanan bergizi, dan berolahraga secara rutin.

Jika menghadapi krisis emosional dan merasa tidak mampu mengatasinya sendiri, seseorang disarankan untuk segera menemui psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan secara profesional.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : unair.ac.id, Detik.com
Tarot Psikologi Gen Z media sosial