MALANG, RADAR MALANG – Proyek Sinden Virtual AI "Nyi Sukma" yang dikembangkan oleh komunitas seniman digital di Yogyakarta, inovasi ini memadukan kekayaan budaya tradisional Jawa dengan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Sebagai bentuk misi pelestarian budaya, digagas oleh para kreator digital dan praktisi seni di Yogyakarta untuk menjembatani kesenjangan budaya. Tujuannya adalah memperkenalkan seni karawitan dan langgam Jawa klasik kepada Generasi Z lewat media yang mereka gunakan sehari-hari, seperti TikTok dan Instagram Reels.
Alih-alih menggantikan sinden manusia, proyek ini diposisikan sebagai jembatan edukasi interaktif dan bentuk arsip digital untuk melestarikan cengkok (cengkok suara) langgam tradisional agar tidak punah.
Tim pengembang melakukan sampling dan melatih model kecerdasan buatan menggunakan rekaman suara asli dari sinden-sinden senior di Yogyakarta. AI dilatih secara khusus untuk meniru keunikan teknik vokal Jawa, seperti:
- Cengkok: lekukan nada khas saat melantunkan sebuah kata.
- Geregel: getaran cepat pada suara yang memberi karakter sakral dan dalam pada cengkok sinden.
Karakter visual "Nyi Sukma" dirancang sebagai konsep Virtual YouTuber (VTuber) tradisional. Wajah, busana (seperti kebaya, sanggul, dan kain batik), serta gerak-gerik tubuhnya dirancang sangat detail menggunakan teknologi penangkap gerak (motion capture) untuk meniru gestur tubuh sinden saat bersimpuh di samping gamelan.
Kehadiran Nyi Sukma memicu diskusi menarik di kalangan seniman. Sebagian besar mengapresiasi karena berhasil membuat anak muda kembali melirik seni gending Jawa. Di masa mendatang, komunitas pengembang berencana mengintegrasikan model AI ini agar Nyi Sukma dapat melakukan interaksi langsung (Live Streaming), membaca request penonton, dan melantunkan tembang mocopat secara spontan berdasarkan teks yang diketik oleh netizen.
Editor : Aditya Novrian
Sumber : Dari berbagai sumber