Sudah Larut tapi Masih Scrolling? Ini Alasan Doom Scrolling Sulit Dihentikan

Siti Aisyah • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 22:00 WIB
Fenomena doom scrolling, yaitu menggulir layar terus-menerus untuk mencari informasi negatif. Sumber: Pinterest
Fenomena doom scrolling, yaitu menggulir layar terus-menerus untuk mencari informasi negatif. Sumber: Pinterest

Malang, Radar Malang — Sudah berada di tempat tidur, tetapi masih belum bisa berhenti menggulir media sosial? Niat awalnya mungkin hanya ingin scrolling sebentar setelah seharian beraktivitas. Namun, tanpa sadar, waktu yang dihabiskan sudah berjam-jam dan layar ponsel masih terus digulir.

Kebiasaan tersebut dikenal sebagai doom scrolling, yakni perilaku menggulir layar secara terus-menerus untuk mencari atau mengonsumsi berita, informasi, maupun konten yang bersifat negatif, mengkhawatirkan, atau memicu kecemasan.

Istilah doom scrolling berasal dari kata doom yang berarti malapetaka atau kehancuran dan scrolling yang berarti menggulir layar.

Fenomena ini semakin mudah ditemukan sejak media sosial menjadi salah satu sumber informasi utama masyarakat. Ketika seseorang menemukan informasi yang mengkhawatirkan, muncul dorongan untuk mencari informasi tambahan dengan harapan dapat memperoleh kepastian atau rasa tenang.

Namun, kondisi tersebut justru dapat berujung sebaliknya. Semakin banyak informasi negatif yang dikonsumsi, semakin besar pula rasa cemas yang muncul. Pada akhirnya, seseorang dapat terus menggulir layar untuk mencari informasi baru meskipun aktivitas tersebut membuatnya semakin khawatir.

Mengapa Doom Scrolling Sulit Dihentikan?

Salah satu faktor yang membuat doom scrolling sulit dihentikan adalah negativity bias, yaitu kecenderungan alami manusia untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap informasi negatif dibandingkan informasi positif.

Baca Juga: Fenomena Doomscrolling Makin Marak, Kebiasaan Ini Diam-Diam Berdampak pada Kesehatan Mental

Dari sudut pandang evolusi, kecenderungan tersebut membantu manusia mengenali ancaman di lingkungan sekitar. Kemampuan untuk lebih peka terhadap hal-hal yang berpotensi membahayakan dapat meningkatkan peluang untuk bertahan hidup.

Di era digital, kecenderungan tersebut dapat diperkuat oleh algoritma media sosial. Konten yang memicu emosi seperti takut, marah, atau khawatir cenderung mendapatkan perhatian pengguna.

Akibatnya, platform dapat kembali menyajikan konten dengan tema serupa secara berulang.

Kondisi ini membuat pengguna berpotensi terjebak dalam lingkaran informasi negatif tanpa menyadarinya. Satu konten dapat mendorong pengguna membuka konten berikutnya, kemudian berlanjut ke informasi lain yang masih berkaitan.

Selain negativity bias, kebiasaan tersebut juga dapat berkaitan dengan fear of missing out (FOMO), yaitu kekhawatiran akan tertinggal informasi atau peristiwa yang dianggap penting.

Dorongan untuk terus mengetahui perkembangan terbaru membuat seseorang merasa perlu memeriksa media sosial berulang kali. Padahal, semakin lama aktivitas tersebut dilakukan, semakin besar pula kemungkinan munculnya rasa lelah, stres, dan cemas.

Dengan kombinasi kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan informasi negatif, pola rekomendasi konten di media sosial, serta rasa takut tertinggal informasi, doom scrolling dapat menjadi kebiasaan yang sulit disadari dan dihentikan.

Editor : Aditya Novrian
Sumber : emc.id, hellosehat.com
doom scrolling scrolling media sosial