Mengenal Buku ‘Around the World in 80 Days’, Bacaan Pertama dan Favorit B. J. Habibie

Kunti Kusumastuti • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 20:30 WIB
Cover buku Around the World in Eighty Days, karya Jules Verne. (Gramedia)
Cover buku Around the World in Eighty Days, karya Jules Verne. (Gramedia)

MALANG KOTA – B. J. Habibie, presiden ketiga Republik Indonesia, memiliki kegemaran lebih terhadap membaca. Dilansir dari Tempo, ia bahkan rela menghabiskan waktu sekitar 7,5 jam setiap hari hanya untuk menimba ilmu dari buku yang dibacanya.

Semasa hidupnya, ia pernah mengatakan bahwa buku bertajuk ‘Around the World in 80 Days’, atau ‘Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari’ karya penulis Prancis, Jules Verne, merupakan bacaan pertama dan favoritnya. 

Baca Juga: PSM Makassar Berharap Tuah Stadion B. J. Habibie

Hadiah Spesial dari Sang Ayah
Buku tersebut diberikan oleh ayahnya, sebagai hadiah karena Habibie kecil memiliki banyak sekali pertanyaan mengenai dunia yang tak kunjung terjawab.

“Sejak kecil saya selalu banyak bertanya, lalu suatu hari ayah saya membelikan saya sebuah buku karya Jules Verne ini dalam bahasa Belanda,” ujar B. J. Habibie.

Karya Klasik yang Tak Lekang oleh Waktu
Buku ‘Around the World in 80 Days’ mengambil latar Inggris pada tahun 1872. Ceritanya mengikuti Phileas Fogg, seorang pria kaya asal Inggris yang kehidupannya cenderung kaku dan terstruktur. Tuan Fogg ditemani oleh pelayan bernama Passepartout, yang berasal dari Prancis. Passepartout sangat ramah dan memiliki hobi berpetualang. 

Suatu hari, Tuan Fogg sedang berkumpul dengan teman-teman sesama anggota klub reformasinya, yakni Reform Club. Kemudian, tertulis dalam sebuah artikel di surat kabar bahwa manusia bisa keliling dunia dengan waktu 80 hari.

Baca Juga: Suka The Odyssey? Ini 5 Buku yang Mengangkat Kembali Kisah Mitos Klasik

Teman-teman Tuan Fogg berpendapat bahwa hal ini mustahil dilakukan, mengingat zaman tersebut belum ada transportasi canggih seperti pesawat. Bahkan, perjalanan antarkota saja memakan waktu berhari-hari jika menggunakan kereta api ataupun kapal. Namun, Tuan Fogg memiliki pandangan optimis bahwa 80 hari adalah waktu yang cukup untuk mengelilingi bumi.

Teman-temannya tetap tidak percaya, dan akhirnya mereka memutuskan untuk taruhan sebesar 20.000 poundsterling. Jika dikonversi, 20.000 poundsterling setara sekitar 1 miliar rupiah. Jumlah yang cukup besar hanya untuk membuktikan apakah waktu 80 hari cukup untuk mengelilingi dunia.

Tuan Fogg mulai bepergian bersama Passepartout. Namun, terjadi pencurian besar-besaran ketika mereka berdua telah pergi meninggalkan Inggris. Hal tersebut menimbulkan spekulasi bahwa pelaku pencurian adalah Tuan Fogg yang berpura-pura untuk keliling dunia hanya karena ingin kabur dari Inggris. Perjalanan Tuan Fogg dan Passepartout pun menjadi penuh dengan tantangan karena berkejaran dengan polisi.

Meskipun buku tersebut diterbitkan pada tahun 1872, namun cerita yang dibawakan tetap terasa segar dan relevan jika dibaca di era ini. Hal yang perlu ditekankan adalah bahwa bahasa yang digunakan merupakan gaya sastra lama, sehingga cukup menantang apabila dibaca oleh pemula.

Baca Juga: Hobi Membaca, 5 Selebriti Ini Punya Klub Buku Sendiri

Editor : Aditya Novrian
Sumber : Tempo
B. J. Habibie Jules Verne membaca Buku Literasi